Tuesday, June 28, 2016

Shofwan Karim Muhammadiyah Sumbar: Ketua PWM Sumbar Ajak Warga Muhammadiyah Itikaf pada 10 Hari Terakhir di Masjid Muhammadiyah

Shofwan Karim Muhammadiyah Sumbar: Ketua PWM Sumbar Ajak Warga Muhammadiyah Itikaf pada 10 Hari Terakhir di Masjid Muhammadiyah

Ketua PWM Sumbar Ajak Warga Muhammadiyah Itikaf pada 10 Hari Terakhir di Masjid Muhammadiyah

http://minangkabaunews.com/artikel-9307-ketua-pwm-sumbar-ajak-warga-muhammadiyah-itikaf-pada-10-hari-terakhir-di-masjid-muhammadiyah.html

Ketua PWM Sumbar Ajak Warga Muhammadiyah Itikaf pada 10 Hari Terakhir di Masjid Muhammadiyah



PADANG -- Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar mengajak seluruh warga Muhammadiyah khususnya Pengurus Masjid Muhammadiyah se-Sumbar untuk melaksanakan itikaf baik secara berjemaah maupun sendiri terutama di 10 hari terakhir.

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Dr. Drs. Shofwan Karim mengoptimalkan ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan 1437 Hijriah di masjid Muhammadiyah. "Kita saat ini sudah memasuki Ramadhan 23 dan ini mendekati penghujung Ramadhan, intinya bahwa salah satu dari bagian penyempurnaan ibadah puasa Ramadhan hendaklah kita memakmurkan masjid dengan beriktikaf," ajak Dr Drs Shofwan Karim yang akrab disapa Buya SK yang didampingi Sekretaris PW Muhammadiyah Sumbar, Drs H. Adrian Muis di Gedung Dakwah Muhammadiyah, kemaren

"Maksimalkan ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, dengan memperbanyak amalan karena banyak keutamaan yang dijanjikan Allah SWT. Bulan Ramadhan ini mari kita tingkatkan taqwa kepada Allah SWT," ajaknya lagi.

Dikatakannya, i"tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu. Itikaf ini lebih diutamakan pada bulan Ramadhan, terutama 10 hari menjelang berakhirnya Ramadhan untuk memperoleh lailatul qadar, namun beritikaf di hari lain pun tidak akan mengurangi manfaatnya.

"Mari kita maksimalkan 10 malam terakhir Ramadan ini untuk menjemput malam 1000 bulan lailatul qadar," katanya.

ini adalah keutamaan dan faedah itikaf:



1. Mendapatkan pahala menunggu datangnya waktu shalat
2. Orang yang itikaf akan terjaga dari perbuatan maksiat,
3. Orang yang itikaf akan dijauhkan dari neraka jahanam sejauh tiga parit. Menurut Al-Kandahlawi jarak satu parit itu lebih jauh dari pada jarak antara langit dan bumi.
4. Orang yang beritikaf akan dengan mudah dapat mendirikan shalat fardhu secara kontinu dan berjamaah.
5. Itikaf membantu menguatkan seseorang untuk menjalankan shalat dengan khusyuk.
6. Membantu orang melakukannya untuk menjalankan shalat atau amalan sunah.
7. Orang yang itikaf akan selalu beruntung karena selalu mendapatkan shaf pertama shalat berjamaah.
8. Mencari malam Lailatul Qadar.
9. Itikaf membiasakan jiwa untu senang berlama-lama di masjid, dan menggantungkan hati pada masjid.
10. Itikaf memudahkan pelakunya untuk menjalankan shalat malam.
11. Membiasakan hidup sederhana, zuhud, dan berlaku tak tamak terhadap dunia.
12. Itikaf ikut menjaga shaum seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa, walau kecil sekalipun.
13. Itikaf berguna untuk mendidik jiwa agar terbiasa berlaku sabar dalam menjalankan amal saleh.
14. Dapat mencegah keinginan untuk melakukan kemaksiatan, serta mendidik berlaku sabar dalam menghadapi segala bentuk kemaksiatan.
15. Itikaf dapat digunakan sebagai sarana untuk introspeksi diri, mengetahui sejauh mana kekuatan dan kelemahan yang ada. (RI)

Saturday, June 25, 2016

PWM Sumbar Salurkan Bantuan Bencana Kebakaran

PWM Sumbar Salurkan Bantuan Bencana Kebakaran

BUKITTINGGI, suaramuhammadiyah.idPimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumbar kembali melakukan road show Ramadhan untuk mengunjungi amal usaha Muhammadiyah dan bersilaturahim bersama tokoh, kali ini PWM Sumbar melakukan Roadshow ke Kota Bukittinggi, pada Kamis (23/6).

Rombongan dipimpin Ketua PWM Sumbar Shofwan Karim Elha, PWM Sumbar bekerjasama dengan Ketua DPD RI Irman Gusman menyalurkan bantuan berupa uang senilai Rp. 2.000.000 untuk Pondok Pesantren Mualimin Sawah Dangka, Bukittinggi. Sebelumnya, Dapur Masak Nasi dan Rumah Pembina Pondok Pesantren Muallimin Sawah Dangka habis dilahap sijago merah, pada rabu (22/6). Api baru dapat dipadamkan kamis pukul 02.00wib, diperkirakan kerugian mencapai Rp25 Juta.



“Dalam rangka road show kedua PWM Sumbar di Kota Bukittinggi, PWM Sumbar dan anggota menyalurkan bantuan kepada Pondok Pesantren Mualimin Sawah Dangka, dan dilanjutkan meninjau perkembangan pembangunan kampus UMSB bersama rektor UMSB,” ujar Shofwan Karim.



Selanjutnya PWM Sumbar bersilaturahim dengan Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias,SH. Dalam kunjungan itu, PWM Sumbar juga membahas kerjasama apik yang akan dilakukan Muhammadiyah dengan Pemko Bukittinggi, agenda awalnya dengan menuntaskan pembangunan kampus Fakultas Hukum UMSB. Pemko Bukittinggi siap mensupport kampus lima tingkat itu.


Agenda Roadshow ditutup dengan agenda konsolidasi dan serah terima buku sejarah Madrasah Aliyah KMM dari Kepala madrasah Derliana. Turut hadir dalam rombongan Penasehat PWM Sumbar RB Khatib Pahlawan Kayo, wakil Ketua Bachtiar, Nurman Agus, Sudirman Nawawi, bendahara PWM Abdurrahman Chan dan Rektor UMSB Dra Novelti serta panitia pembangunan kampus UMSB (RI).

Friday, June 24, 2016

Gubernur Dukung Masjid Taqwa Jadi Ikon Kebanggaan Kota Padang

Gubernur Dukung Masjid Taqwa jadi Ikon Kebanggaan Kota Padang

PADANG, suaramuhammadiyah.id — Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menyatakan dukungannya untuk memfasilitasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat dalam menarik investor dalam mewujudkan mimpi mengembangkan Masjid Taqwa yang memiliki plaza dan hotel syariah.

“Semua diawali mimpi dan cita-cita. Ini rencana besar yang bisa saja diwujudkan jika ada investor. Untuk itu kita akan berupaya memfasilitasinya,” ungkapnya usai memberikan ceramah agama di Masjid Taqwa Muhammadiyah di kawasan Pasar Raya Padang, Minggu (19/06).

Menurut Irwan Prayitno, pengembangan Masjid Taqwa merupakan ide yang luar biasa. Mengingat, masjid dimaksudkan berdiri di Pasar Raya Padang sebagai pusat keramaian dan jantung kota. Dengan lokasi yang strategis, terdapat potensi keuntungan yang besar mengiringi pengembangan Masjid Taqwa.

“Ini lokasi mahal. Pasti investor tertarik,” tuturnya.

Sebelumnya, Walikota Padang, H Mahyeldi menyatakan dukungannya terhadap upaya pengembangan Masjid Taqwa Muhammadiyah untuk menjadi ikon kebanggaan Kota Padang. “Kami siap menfasilitasi pengembangan masjid Taqwa ini karena letaknya yang strategis dan titik central Kota padang,” ujarnya.

Mahyeldi juga memberikan bantuan Rp10 juta kepada pembangunan masjid Taqwa Muhammadiyah Padang.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, Dr Drs Shofwan Karim Elha, MA mengatakan, rencana pengembangan Masjid Taqwa sebenarnya bukan hal baru, karena cetak biru tentang rancangan bangunan Masjid Taqwa telah digambar sejak lama.

“Sejak zaman Walikota Padang masih Hasan Basri Durin, blue print Masjid Taqwa sudah ada. Bangunan ini terhubung dengan Balaikota dan Pasar Raya, serta memiliki parkir bawah tanah. Kita sampaikan ini ke Walikota sekarang. Beliau mendorong untuk diwujudkan,” terangnya.

Menurut Shofwan Karim jika pengembangan Masjid Taqwa terwujud, maka salah satu masjid terbesar di Indonesia selain Masjid Raya Sumatera Barat saat ini, layak dijadikan ikon. Untuk pengembangan, dibutuhkan penambahan lahan serta dana pembangunan yang cukup besar. Saat ini pengurus masih melakukan perhitungan serta mematangkan rencana. Terkait target merealisasikan Masjid Taqwa yang lebih modern dan terintegrasi, menurut Shofwan Karim belum bisa ditentukan.

“Bisa jadi cepat terwujud, kalau secepatnya ada investor. Kita tidak bisa targetkan, tapi optimis dulu dan ikhtiar,” pungkasnya (RI).

Sunday, June 12, 2016

Volunteers feed Chicago's homeless and hungry during Muslim fast

http://www.chicagotribune.com/news/ct-muslim-ramadan-volunteers-met-20160604-story.html

Volunteers feed Chicago's homeless and hungry during Muslim fast




They call it feeding it forward.

Every Sunday morning, dozens of volunteers gather in the basement of the Downtown Islamic Center on South State Street to fill brown bags with peanut butter-and-banana sandwiches, fresh fruit and water. Children decorate each package with stickers and crayon hearts before the group ventures to Lower Wacker Drive, feeding any hungry and homeless they encounter on the way and in the makeshift shelters below the city.

As Muslims around the world prepare to observe the holy monthlong fast of Ramadan, expected to begin Monday, the volunteers are stepping up their efforts. This week until early July, they will fan out on Fridays, Saturdays and Sundays to deliver hundreds of bags — in hopes of helping those in need and setting an example for their children and community.

The effort, dubbed Forward Humanity, has provided an opportunity for Muslim-American parents to teach and model compassion for their children in the midst of a heated political season in which some rhetoric has targeted them. Its launch last fall coincided with a proposal from Republican presidential candidate Donald Trump that the government register and track Muslims in the U.S.

"It's not that I'm trying to promote Islam," said project founder Sanah Khan, 30, as her 5-year-old daughter Sarinah decorated paper bags with star stickers one recent Sunday. "I take (Trump) in a very positive way. I am actually very thankful because he gave us reasons to stand up and say we can do better. … People need to see the normal Muslims. This is home for us."

Inspiration for the project struck Khan during Ramadan last year, when her husband and daughter made umrah, a spiritual pilgrimage to Mecca, intended to help Khan recover from a number of personal struggles and to start a new chapter.



Every night of the journey, as fellow pilgrims broke their fast, she witnessed extraordinary generosity among strangers — a benevolence she wanted to model at home, and interpreted as an invitation from God.

"People give without even looking," Khan said. "People were giving to me. They didn't ask 'Are you hungry? How much do you need?' Whatever they had they just shared," and it was often the best of what they had.

Within months of Khan's return to Chicago, Trump began to chide Muslims during campaign rallies. If elected president, Trump said, he would protect the country from a secret terrorist army by expelling Syrian refugees from the U.S. and barring more from entering. He also called for closer monitoring of mosques.

In response, Khan said she stood on the sidewalk outside her State Street house of worship last fall holding a box of doughnuts and a sign that read: "Islam talks about peace." She was stunned by the reaction.


"I thought people would come to me for doughnuts," she recalled. "But so many Americans came to me just to give me a hug, apologizing on his behalf and saying, 'You don't have to stand here and defend your religion.'"

Khan went back to her mosque and suggested starting food deliveries to the city's homeless. A call for volunteers during the Friday congregational prayer drew dozens back to the mosque the following Sunday.

Since then, word has spread and attendance has grown.

One Sunday, a busload of students from Northwestern University lent their hands. Another Sunday, a Girl Scout troop from Bloomingdale participated, and on another the mosque partnered with a Jewish group. Occasionally, someone who once received a sandwich shows up to help. Muslim families regularly commute from South Barrington and Naperville to be a part of the movement.

Though the effort is based in the basement of a mosque, Khan said many volunteers are not Muslim and all are welcome, regardless of whether they're inspired by a religious tradition. But for the Muslim parents in particular, the Sunday gatherings provide a way to teach children that they are part of the broader Chicago community.

"They're teaching their kids to know, even as a Muslim, they're still part of all this," Khan said.

Modaser Rafiq-Dinnegan, of Lincoln Park, said she showed up with her infant daughter last fall after spotting the volunteer opportunity on Facebook. While she was moved to give money to help Syrian refugees last year, she said, the local aspect of this project appealed to her.

"I think the Muslim community does a lot for the Muslim community," she said. "If you do something in the community where you're living," it leaves a positive impression on others.

While giving charity is one of the five pillars of Islam, many Muslim elders and first-generation immigrants have channeled their philanthropy back to their homelands. Younger generations say there is a greater need to focus here at home.

Aliyah Banister, 28, a clinical social worker at the Islamic Foundation School in Villa Park, said philanthropy can be therapeutic for young people who feel unfairly defined by others. Giving gifts and charity removes hatred from the heart for both parties, Banister said, citing the Prophet Muhammad.

"This is who you are and this is what you stand for," she said. "You needn't feel ashamed you belong to something trying to make the world better. It helps that confidence."

Safaa Zarzour, vice chairman of the Council of Islamic Organizations of Greater Chicago, said that during Ramadan the council will urge the faithful at about 60 mosques across the area to donate and participate in the Forward Humanity project. So far, funding for the project has come from the Downtown Islamic Center and donors, many of whom remain anonymous.

Zarzour said the project arose at a time when the council was looking for ways to engage more women and young people in the community. He said food plays a significant role in Islam, especially during Ramadan, when Muslims are expected to abstain from eating and drinking during daylight hours as a way to relate to those who don't fast by choice. The month begins with the sighting of a new moon, which most likely will appear Sunday night.

"One of the key goals of Ramadan that we've been taught ever since we're children is we feel what people feel every single day of the year," Zarzour said.

Khan said empathy can develop from both fasting and giving.

On a recent sunny weekday, Khan's daughter Sarinah was surprised to see the number of homeless staking out spots on the city's sidewalks. Khan said she knew she was doing the right thing when her daughter asked, with concern:

"Mom, who's feeding them today?"

"There are millions of hungry and homeless in America," Khan said. "They're in our backyard."

mbrachear@tribpub.com

Saturday, June 11, 2016

Sumatera Barat Menuju Pariwisata Syari’ah, Antara Gagasan dan Peluang

Imnati Ilyas dengan latar belakang persiapan suatu acara di Istano Silinduang Bulan Kerajaan Pagaruyung, Maret 2015.

Sumatera Barat Menuju Pariwisata Syari’ah, Antara Gagasan dan Peluang:

sinkronisasi caturlogi wisata syariah di sumbar [1]

Oleh  Shofwan Karim [2]

I. PENDAHULUAN 
Sumatera Barat berpenduduk 4.846 .909 jiwa, terdiri atas 19 Kota dan Kabupaten, terletak di tengah-barat Pulau Sumatera  dan dilalui Garis Khattulistiwa. Hanya 30 % lahan yang dapat ditanami oleh petani. Selebihnya adalah dataran tinggi, pegunungan  dan bukit barisan, danau, dataran rendah, lemba, hutan lindung  dan cagar alam yang menjadi  paru-paru dunia.

Menurut data 2010, penduduk Sumatera Barat  mayoritas etnis Minangkabau 88,35%, Batak, 4.42 %, Jawa 4,15 % dan Mentawai 1,28 %, lain-lain 1,8%. Beragama Islam 97,4 %, Kristen Katholik dan Protestan 2,2%, Buddha 0,26 % dan Hindu 0,01%. [3]

Masyarakat Minangkabau terkenal sebagai kaum  yang suka merantau. Boleh jadi, karena lahan yang sempit dan masalah internal dan eksternal lain, membuat  sebagian besar mereka suka merantau, melakukan migrasi spontan. [4]

Islam masuk ke Minangkabau sebagai juga masuknya Islam ke wilayah nusantara ini, melalui beberapa gelombang. Mulai dari abad ke-7, terhenti, mulai lagi abad, kle-13 dan terhenti, kemudian dengan dianutnya Islam oleh Raja Pagaruyung, maka Islam menjadi agama resmi masyarakat Minangkabau . Sampai sekarang, agama ini kokoh dipegang. [5] Bahkan Islam (syara’) menjadi kekuatan yang saling menupang dengan adat. Maka lahir adagium “ adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syara’ mengato, adaik mamakai[6].

Di tengah masyarakat modern, kemajuan semua lini kehidupan, pembangunan di segala bidang dan sektor, bagaimanakah adagium itu dapat diaktualisasikan? Salah satu di antaranya di dunia kepariwisataan. 


Shofwan dan Imnati, Winter, February, 18-20, 2015 Ottawa, Omtario, Canada (Photographed by Andis)

Imnati with our very nice friend, Kristine Greenaway, in  Montreux, Swiss, May 18, 2013 (Photographed by Shofwan Karim)
Di dalam kaitan ini Seminar Internasional, “ Sumatera Barat menuju pariwisata syariah, antara gagasan dan peluang”, ini menjadi amat penting. Di dalam hal ini perlu kita gambarkan bagaimana pariwisata syariah di Indonesia. Kemudian perlu sinkronisasi antara alam, budaya, masyarakat dan nilai-nilai syar’i (Islam) yang selanjutnya saya sebut sebagai cartur logi wisata syariah.

II.   PARIWISATA SYARIAH
Dunia kepariwisataan di Indonesia sejak 2 tahun lalu mulai menggagas frasa kata apa yang disebut wisata syariah. Sebagai gambaran umum apa itu pariwisata syariah, untuk sementara dapat kita pahami sebagai apa yang saya kutip brikut:


          

“Wisata syariah adalah cara baru untuk mengembangkan pariwisata Indonesia. Kemenparekraf dan Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah bekerjasama untuk wisata yang menjunjung tinggi budaya dan nilai-nilai Islami.

Dari rilis yang diterima detik Travel dari Kemenparekraf, Jumat (21/12/2012), Kemenparekraf dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menandatangani MoU terkait sosialisasi pembinaan aspek kesyariahan untuk stakeholder pariwisata syariah. Penandatanganan dan pertemuan kedua belah pihak ini berlangsung di The Empire Palace, Surabaya, Kamis (20/12) kemarin.

Hal ini menandai mulai aktifnya pengembangan dan promosi Indonesia sebagai destinasi wisata syariah dunia. Beberapa destinasi wisata yang saat ini mempunyai potensi untuk dipromosikan sebagai destinasi wisata syariah tersebut adalah Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Makasar, dan Lombok.Pariwisata syariah dapat didefinisikan sebagai berbagai macamkegiatan pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah yang memenuhi ketentuan syariah. Pariwisata syariah ini sejalan dengan Undang Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang disebutkan mengenai pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan juga tentang kode etik pariwisata dunia yang menjunjung tinggi budaya dan nilai–nilai lokal.

Kemenparekraf menyiapkan standarisasi usaha wisata syariah mulai dari hotel, restoran, spa, biro perjalanan wisata. Kemenparekraf akan menggandeng universitas-universitas untuk menyiapkan SDM industri wisata syariah seperti guide, customer service di hotel.

Dari sisi promosi, Kemenparekraf mempromosikan Indonesia sebagai destinasi wisata yang ramah, aman dan nyaman bagi wisatawan muslim. Parekraf juga akan ikut dalam event pariwisata syariah di luar negeri…….”

Dari rancangan pemerintah tadi, maka tahun 2014 akan diluncurkan program nasional Pariwisata syariah. Lihat :

Kita kutip,

        

“Wisata syariah bukanlah wisata eksklusif karena wisatawan non-Muslim juga dapat menikmati pelayanan yang beretika syariah. Wisata syariah bukan hanya meliputi keberadaan tempat wisata ziarah dan religi, melainkan pula mencakup ketersediaan fasilitas pendukung, seperti restoran dan hotel yang menyediakan makanan halal dan tempat shalat.

Produk dan jasa wisata, serta tujuan wisata dalam pariwisata syariah adalah sama seperti wisata umumnya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan etika syariah. Contohnya adalah menyediakan tempat ibadah nyaman seperti sudah dilakukan di Thailand dan negara lainnya yang telah menerapkan konsep tersebut terlebih dahulu.

Potensi wisata syariah di Indonesia sangat besar dan bisa menjadi alternatif selain wisata konvensional. Sekitar 7 juta wisatawan dan 17 persen di antaranya merupakan wisatawan Muslim.”


  Kelihatan oleh kita sekarang bahwa parisiwisata syariah bukan lagi gagasan tetapi sudah meningkat ketahap berikutnya yaitu usaha kearah yang lebih konkret. Meskipun landasan  hukum, undang-undang dan peraturannya , secara berbarengan tengah disiapkan pemerintah. Akan tetapi usaha wisata syariah sudah dilakukan oleh pihak swasta dan masyarakat. Maka lahirlah travel syariah, hotel syariah dan restoran syariah serta destinasi syariah lainnya. Ini artinya merupakan kelanjutan dari apa yang sejak dulu sudah ada yang kita sebut sebagai wisata ziarah, wisata budaya dan wisata reliji.

III. CATUR LOGI WISATA SYARIAH SUMBAR
Dunia pariwisata selama ini lebih kepada sinkronisasi antara alam, budaya (kultur) dan masyarakat (trilogi). Maka apa yang kita maksud dengan wisata syariah tentulah menambah satu lagi logos baru, yaitu wisata yang mempunyai aura religi yang nilai-nilainya serta etika dan aktifitasnya, sarana dan prasarananya sinkron dengan syar’i.

Saya menyebut ini sebagai  caturlogi wisata syariah di Sumbar, sebagai salah satu dari destinasi wisata syariah dari 9 wilayah daerah yang ditetapkan Kemenpekraf dan MUI sebagai sudah diutarakan pada bagian terdahulu. Maka catur logi yang harus kita sinkronkan adalah alam, kultur, masyarakat dan nilai syariah.
Tari Pasambahan menyambut pengantin di Payakumbuh, Mahasiswa ISI Padang Panjang, April, 2016 (Foto: Shofwan Karim)

Di Sumbar, sebagai telah saya utarakan pada pendahuluan dan sudah diketahui semua, sinkronisasi catur logi tadi sudah berjalan sesuai alamiah dan kodratnya saja. Masalahnya adalah bagaimana mencermati dan menghitung satu-satu potensi  yang ada di Sumbar. Saya tidak perlu menyebut lagi soal potensi alam, semua kita sudah tahu. Begitu pula potensi religi dan nilai syariah yang kita punya, semua sudah tahu. Begitu pula  potensi budaya saya.

Semua itu dapat diliha pada makalah saya terlampir pada,
“Annual Lecture dan Seminar Mengenang Tokoh Diplomasi Bung Hatta: Apresiasi Perjalanan 50 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Malaysia”, kerjasama Universitas Andalas dengan Deplu RI (Dit. Asia Timur & Pasifik dan Dit. Diplomasi Publik) dan KBRI Kuala Lumpur di Padang, Kamis, 19 April 2007.
Kembali ke carturlogi pariwisata syariah di Sumbar, perlu ditekankan bahwa kata syariah di sini bukan masalah halal dan haram. Akan tetapi bagaimana nuansa syariah itu muncul di dalam penerapan etika budaya oleh   masyarakat sendiri yang ada di sumbar,   terhadap diri, dan kepada wisatawan domistik. Begitu pula kepada para wisatawan mancanegara. Di dalam hal ini dari 17 % wisatawan muslim ke Indonesia, sebagian di antaranya masuk ke Sumbar menjadi subyek sekaligus objek penerapan nilai-nilai syar’i tersebut.

IV. KESIMPULAN DAN PENUTUP

Melihat kepada alam, budaya, social-masyarakat dan nilai-nilai syar’i yang hidup dalam masyarakat Sumbar, dapat disimpulkan bahwa sinkronisasi itu secara alamiah telah terlaksana. Akan tetapi bagaimana meningkatkannya menjadi lebih produktif dan dapat meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah, inilah yang harus terus menerus secara terencana, terprogram dengan sarana, prasana dan pendidikan masyarakat, dilaksanakan dan ditingkatkan.
·     Wa Allah a’lam bi al-sahwab. ***




[1] Seminar Internasional Fakultas Pariwisata UMSB, Sumbar Menuju Pariwisata
Syari’ah: Antara Gagasan dan Peluang, Bukittinggi, 15 Maret 20-14.
[2] Shofwan Karim, BA., Drs., MA., DR. (IAIN IB Padang, 1976 dan 1982); MA., DR.
(IAIN dan UIN Jakarta, 1991 dan 2008) adalah Dosen IAIN IB Padang (1985-
sekarang) dan Rektor UMSB 2004-2013.
[4] Mochtar Naim, Merantau: Minangkabau Voluntary Migration.
Disertasi Ph.D.   University of Singapore, 1974. Hal. 10
[5] Periode I abad ke 7 di masa pemerintahan Dinasti Umayyah Islam masuk di wilayah Minangkabau Timur. Perkembangan itu terhenti sampai abad ke-8 oleh "counter action" Dinasti T'ang dari Cina karena perebutan dominasi ekonomi. Periode II antara abad ke 10 sampai abad ke-12 ketika Dinasti Fatimiyah di Mesir (976-1168 M.) mengirim misinya dan menyebarkan Islam Syi'ah. Periode III pada abad ke-15 kembali Islam masuk dan pada pertengahan abad ke-16 Sultan Alif keluarga raja Minangkabau memeluk Islam beserta seluruh warga Minangkabau. Lihat M.D. Mansoer, Et. al., Sejarah Minangkabau (Jakarta: Bhratara, 1970), h. 44, 45, 47, 48, 49, 63; lihat juga, HAMKA, Ayahku: Riwayat Hidup DR. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, (Jakarta: UMMINDA, 1982) h. 3, 14-20. Juga B.J.O. Schrieke, Pergolakan Agama di Sumatera Barat (Jakarta: Bhratara, 1973), h. 11-23.

[6] Adat (budaya-hidup) bersendikan syara’, syarak, bersendikan kitabullah (al-Quran dan Sunnah). Syara’ memberikan dalil dan hujjah, adat yang menjalankannnya.

Tuesday, June 07, 2016

Shofwan Karim : Hari-MU Adalah Suplement Bangkitkan Ghirah KemuhammadiyahanSelasa, 31-05-2016

http://sumbar.muhammadiyah.or.id/berita-6159-detail-shofwan-karim--harimu-adalah-suplement-bangkitkan-ghirah-kemuhammadiyahan.html

Shofwan Karim : Hari-MU Adalah Suplement Bangkitkan Ghirah KemuhammadiyahanSelasa, 31-05-2016
Dibaca: 29

SOLOK -- Ribuan warga Muhammadiyah Sumbar memadati Majid Agung Kota Solok, Ahad (29/5/2016). Mereka tampak bergembira menghadiri perhelatan Akbar hari berMuhammadiyah se-Sumbar itu. Dengan mengusung tema "Gerakan Pencerahan untuk Kota dan Kabupaten Solok Berkemajuan".

Hari-MU atau lebih dikenal dengan hari bermuhammadiyah dimeriahkan dengan berbagai kegiatan antaralain jalan sehat, bazar amal usaha Muhammadiyah, pengukuhan PDM dan PDA Kab/kota Solok, pengukuhan Nasyiatul Aisyiyah kab/kota Solok periode 2015-2020, aksi donor darah, tabligh akbar dan tausiah bersama Ketua PP Muhammadiyah Dr. Anwar Abbas dan ditutup dengan launching imsakiyah Ramadhan 1437H.

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Dr Drs Shofwan Karim Elha,MA mengatakan Muhammadiyah terus melakukan mobilisasi pergerakan dakwah amal makruf nahi mungkar. Sekarang tinggal mengatur ritme, conten dan berkelanjutan, bagi warga Muhammadiyah Hari bermuhammadiyah merupakan suplement atau multivitamin untuk membangkitkan gairah para kader Muhammadiyah, kemudian mengupdate kembali spirit moral kemuhammadiyahan.

"Hari-MU merupakan suplemen dan multivitamin bagi warga dan kader Muhammadiyah untuk meningkatkan energi mengisi battrey aki kehidupan Muhammadiyah untuk Sumbar berkemajuan," kata Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Dr Drs Shofwan Karim yang didampingi Sekretaris PWM Sumbar Drs H. Adrian Muis Chatib Saripado di Majid Agung Kota Solok, Ahad, (29/5/2016).

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar juga mengucapkan Selamat kepada Milad ke-99 kepada Aisyiyah dan juga selamat PDM Kab/kota Solok yang dikukuhkan dan selamat hari bermuhammadiyah bagi kita semua.

Kali ini saya ingin menyampaikan Islam berkemajuan untuk Indonesia berkemajuan. Berkemajuan merupakan taqaddam dan yastaqdim, di front line. Berkemajuan itu adalah al-tsaqaah, al-hadharah wa al-mutahadditsah. Ada delapan arti maju pertama, progresif dan sustainable atau berkelanjutan menjalankan agama dengan kehidupan modern sesuai nilai yang terkandung di dalam AlQuran dan hadist secara kontektual dalam ruang dan waktu berdasarkan IMTAK menggunakan IPTEK dengan menjunjung budaya dan adat lokal, nasional dan universal. kedua maju artinya Islam yang rahmatan lil alamin bersifat kompetitif, kolaboratif, innovatif, tolerans, inspiratif, santun serta senantiasa benar, amanah, cerdas dan komunikatif (shiddiq, amanah, fathanah dan tabligh)

Ketiga Maju artinya menghormati HAM dgn kewajiban hifzul al-din, hifz al-nafs, hifz al-aqal, hifz al-Mal. Keempat Maju artinya menjadikan Negara Pancasila sebagai Dar al-ahd (kesepakatan bersama) wa al-syahadah (dalam kenyataan). Kelima Maju artinya beribadah, beramal dan mengabdi utk harakah- jamaah-persyarikatan, umat dan bangsa sekuat tenaga dengan hati lapang, gembira, ceria dan bahagia. Kenama Maju artinya aqidah tangguh, ibadah tertib sesuai Quran dan sunnah shahihah, ekonomi kuat, pendidikan berkualitas, kesehatan tangguh, org tua terpelihara, wanita terlindungi dan mandiri, anak-anak, remaja, pemudan dan rakyat menguasai kemahiran dan profesionalisme dan terdidik serta berakhlaqul karimah dengan hidup saling tolong menolong dalam kebaikan.

Ketujuh Maju itu adalah setiap diri, keluarga dan masyarakat merasa aman, sejahtera, sentosa dan bahagia dalam ridha Allah swt.

Itulah semuanya yg terus menerus mesti kita kejar dan capai di dunia dan di akhirat. Delapan Maju artinya menambah rezeki dg membarikan rezeki itu kembali yg berhak dg metoda modern lain wakaf uang, wakaf harta benda bergerak dan tidak bergerak.

"Terakhir saya menawarkan PDM mana yang bersedia sebagai tuan rumah Hari Bermuhammadiyah kedua tahun 2016 ini yang direncanakan akan diadakan Bulan Juli 2016 mendatang," jelasnya.

Hadir dalam kesempatan itu DR Anwar Abbas, Anggota DPR RI Kom IX Betty Shadiq Padadiqu WaWako, H. Rainir, Ketua Komisi V DPRD Sumbar Drs. H Apris Yaman Dt. Nan Sati, Ketua MUI Sumbar H. Gusrizal Gazahar, PDM Kota/Kab se-Sumbar dan kader Muhammadiyah Sumbar. (RI)

Tags: PWM SUMBAR

http://sumbar.muhammadiyah.or.id/berita-6159-detail-shofwan-karim--harimu-adalah-suplement-bangkitkan-ghirah-kemuhammadiyahan.html

Hasil Kongres Kalender Islam di Turki (Wawancara Eksklusif dengan KetuaMajelis Tarjih dan Tajdid)


Hasil Kongres Kalender Islam di Turki (Wawancara Eksklusif dengan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid)

http://tarjih.or.id/hasil-kongres-kalender-islam-di-turki-wawancara-eksklusif-dengan-ketua-majelis-tarjih-dan-tajdid/






Hasil Kongres Kalender Islam di Turki (Wawancara Eksklusif dengan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid)

Kongres Penyatuan Kalender Hijriah yang diselenggarakan di Turki 28-30 Mei 2016 telah usai. Melalui disksusi panjang nan alot, akhirnya sistem voting dipilih untuk menetapkan keputusan terkait kalender mana yang akan disepakati, apakah zonal atau unifikatif? Dengan memanjatkan syukur, akhirnya konsep kalender unifikatiflah yang disepakati sebagai kalender Islam dunia. Kalender ini diyakini mampu menjadi solusi kongkrit atas persoalan terkait pelaksanaan momen ibadah umat Islam yang terjadi selama ini. Meski demikian ada hal-hal yang perlu digarisbawahi terkait penyelenggaraan kongres tersebut. Mulai dari pemberitaan hasil kongres yang sempat simpang siur, sampai konsep kalender terpilih yang perlu mendapat catatan. Kesimpangsiuran berita terjadi pada hari-hari diselenggarakannya kongres. Ada sebagian situs Arab yang memberitakan tentang terpilihnya konsep kalender unifikatif milik Jamaluddin Abdurraziq sebagai kalender Islam dunia. Namun di sisi lain, terdapat pemberitaan yang berbeda, semisal tetap menjadikan rukyat sebagai landasan utama. Selain itu, terpilihnya konsep kalender unifikatif yang diusulkan tim panitia ilmiah juga konon tidak praktis. Ini seperti yang diungkapkan ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syamsul Anwar, sepulangnya dari kongres tersebut.

Untuk mendapatkan berita yang valid sekaligus klarifikasi atas kesimpangsiuran yang terjadi, beberapa hari lalu dua alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM): Niki Alma Febriana Fauzi dan Qaem Aulasyahied berkesempatan mewawancarai Prof. Syamsul Anwar di kediamannya. Berikut petikan wawancara tersebut yang dilakukan pada sore hari tanggal 3 Juni 2016.

Di bagian akhir wawancara, redaksi web tarjih juga mencantumkan naskah asli konsep kalender zonal dan unifikatif yang mengemuka pada saat kongres. Selain itu, redaksi juga mencatumkan tanggapan Prof. Syamsul Anwar dalam bahasa Arab yang beliau tulis di tengah-tengah kongres (sampai pukul dua malam) atas dua konsep yang mengemuka tersebut. Para pembaca dapat mendownloadnya di akhir wawancara.

Ustadz Syamsul, bisa diceritakan bagaimana kongres di Turki kemarin, Ustadz?

Baik. Jadi, tanggal 28 sampai 30 Mei diadakan kongres internasional penyatuan kalender hijriah yang diselenggarakan oleh Badan Urusan Keagamaan Turki (Presidency of Religious Affairs), di Istanbul, Turki. Kemudian perlu dijelaskan sebelumnya bahwa sistem kongresnya bukan simposium. Tapi para peserta mengajukan makalah, lengkap dengan konsep kalender. Paper-paper yang masuk dan diterima diolah oleh panitia ilmiah dari kongres itu yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kongres tersebut dari segi akademis. Mereka kemudian meramu paper yang masuk, termasuk punya saya, dan kemudian mereka menyimpulkan ada dua konsep: kalender bizonal dan kalender tunggal. Kalender bizonal ini kriterianya saya agak lupa persisnya, tapi ada cacatannya. Dan yang kedua kalender tunggal itu: (1) imkanu rukyat 5-8 (tinggi hilal minimal 5 derajat, elongasi 8 derajat) di suatu tempat di seluruh dunia sebelum pukul 12 malam GMT. Dalam arti, apabila sudah imkanu rukyat 5-8 di suatu tempat di muka bumi sebelum pukul 12 malam waktu GMT maka sleuruh dunia besoknya memulai tanggal 1. Dalam hal terjadi bahwa imkanu rukyat 5-8 itu tercapai tetapi sudah melewati pukul 12 malam waktu GMT, maka terhadap kasus itu diterapkan kriteria berikutnya, yaitu bahwa imkanu rukyat yang lewat pukul 12 malam GMT itu terjadi sebelum fajar di New Zealand. Dan imkanu rukyat itu sudah mencapai daratan benua Amerika.

Perdebatannya yang banyak itu adalah tentang matlak. Apakah ada perbedaan matlak (ikhtilaf al-mathali) atau hanya satu matlak (ittihad al-mathali’). Menurut yang pertama, tiap-tiap tempat harus ada matlaknya sendiri. Sedangkan menurut pendapat yang kedua, seluruh dunia itu satu matlak (ittihad al-mathali’). Artinya, satu tanggal satu hari di seluruh dunia. Ini yang menjadi perdebatan sengit. Kemudian perdebatan ini tidak selesai. Dan akhrinya di voting. Yang menang adalah satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Satu hari satu tanggal itu 80 suara. Kalender bizonal 27 suara. Suara abstain, sepertinya 14. Suara tidak sah itu 6. Semuanya 127 peserta yang punya hak pilih. Mungkin pesertanya lebih, tapi yang punya hak suara hanya itu. Dari Indonesia 3 orang. Saya, Pak Muhyidin Djunaedi (MUI) dan Hendro Sentyanto (PBNU). Semua dari Indonesia memilih satu hari satu tanggal.

Kenapa pengambilan keputusan kongres itu sampai dilakukan voting?

Karena para peserta dan forum pada saat itu tidak sepakat antara ikhtilaf al-mathali atau ittihad al-mathali’, maka akhirnya dilakukan voting untuk memutuskan.

Jadi konsep satu hari satu tangal yang dipilih itu bukan konsep kalender Jamaluddin Abdurraziq?

Bukan. Itu ramuan dari tim panitia ilmiah dari semua paper yang masuk.

Apakah ada remomendasi-rekomendasi dari kongres itu?

Voting itu hanya memilih antara zonal atau tunggal, tapi tidak menjelaskan kriteria satu hari satu tanggal yang disepakati itu seperti apa. Karena kan selama kongres itu konsep yang diajukan panitia ilmiah mendapatkan masukan dan tanggapan. Setelah selesai voting pun saya tunggu-tunggu, penjelasan satu tanggal satu hari itu apakah berikut dengan kriteria seperti yang ada dalam proposal tim panitia ilmiah atau tidak? Nah, saya meninggalkan di situ beberapa halaman catatan untuk menanggapi kriteria itu. Karena kriteria itu pertama tidak praktis, rumit dan orang tidak bisa membuat kalender di berbagai tempat dengan kriteria tersebut. Harus ada satu komite kalender internasional untuk menetapkan. Nah itu kan tidak praktis namanya. Nanti komite itu dimana? Apakah di Turki? Nanti kalau di Turki, orang Arab apa mau? Terus kalau tempatnya di Arab, apa orang-orang Afrika, Eropa, apa mau? Itu masalahnya. Beda dengan kalender masehi, itu kriterianya jelas. Siapapun orang di seluruh dunia membuat kalender berdasarkan kriteria kalender masehi, tidak harus bertanya terlebih dahulu kepada suatu komite kalender. Karena memang tidak ada komite kalender masehi. Kalau kalender hijriah dengan kriteria seperti itu tidak bisa seperti kalender masehi. Harus ada komitenya.

Apa kelemahan kriteria dari konsep kalender tunggal yang diusulkan tim pantia itu, Ustadz?

Nah, kelemahannya itu di mana? Pertama, saya memberi catatan angka 5-8 itu dasar ilmiahnya dari mana? Apakah dikumpulkan hasil rukyat di berbagai tempat, lalu dianalisis secara statistik. Atau berdasarkan verifikasi dan eliminasi, yaitu mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan misalnya 5-7, 6-8, 5-7 ½ , 5 ½ -9. Itu semua dikumpulkan, lalu dianalisis satu persatu, sampai menemukan satu yang paling cocok. Yang kedua, saya memberi catatan terkait kriteria kedua, yaitu jika imkanu rukyat 5-8 itu tercapai tapi sudah melawati pukul 12 malam waktu GMT. Ketika sudah lewat pukul 12 malam, kita harus mencari imkanu rukyat pertama itu di mana? Itu harus di cari dan jam berapa itu terjadi. Karena kan imkanu rukyat itu lewat dari jam 12 malam, sehingga tidak memenuhi syarat pertama tadi. Maka berlaku aturan kedua: asal sebelum fajar di New Zealand. Nah imkanu rukyat pertama itu jam berapa? Supaya bisa ditentukan, apakah berbenturan dengan fajar di New Zealand apa tidak? Apalagi kalau di New Zealand itu musim panas, bisa terjadi pukul 02.30 sudah fajar. Kemudian masalah selanjutnya, fajar di New Zealand itu ngukurnya di mana? Tidak disebutkan itu dalam proposal tim panitia ilmiah. Harus ada satu titik yang dijadikan patokan untuk mengkukur. Karena itu sangat menentukan. Ketiga, saya menanggapi terkait kriteria selanjutnya, yaitu tentang keharusan imkanu rukyat telah mencapai daratan benua Amerika. Nah, daratan Amerika itu daratan yang mana? Benua Amerika itu kan berkelok-kelok, tidak lurus. Makanya saya menyimpulkan dalam tanggapan saya itu bahwa konsep kalender tersebut tidak praktis. Dan karenanya panitia harus mencari kriteria kalender unifikatif yang praktis. Maksud saya konsep Jamaluddin Abdurraziq itu, tapi tidak saya katakan itu secara eksplisit. Ukuran yang lebih praktis misalnya berdasarkan UTC 12 siang, nanti kalau mau diberi pengecualian-pengecualian, kita beri pengecualian seperti yang kita lakukan terhadap kalender yang diusulkan itu. Kemudian saya juga menyarankan agar kalender itu diuji seratus tahun ke depan dengan sistem perbandingan bersama kalender lain yang ada. Itu yang saya sampaikan di kongres itu, meskipun beberapa kali dipotong oleh moderator, karena yang saya sampaikan kan sekitar 4-5 halaman. Saya membuat tanggapan itu sampai jam 2 malam di sana.

Tapi yang penting kalo kalender internasional itu apapun kriterianya yang penting satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Jadi kalau diurut-urutkan dia nanti hasil akhirnya juga sama. Cuma ada dalam kasus-kasus tertentu memang berbeda. Nah, perbedaan ini yang mau kita ambil yang mana yang paling baik. Jadi tidak ada masalah. Imkanu rukyat itu bermasalah kalau dia dipakai untuk lokal. Misalnya di Indonesia imkanur rukyat menggunakan kriteria 4-6 ½ . Nanti kalau baru 4-6 kan belum masuk. Padahal apabila 4-6 di Indonesia, di Amerika bulan sudah terpampang tinggi. Itu problemnya di situ. Jadi kalau imkanu rukyat untuk lokal itu memang susah dan bermasalah, tapi kalau untuk internasional imkanu rukyat memang sudah syarat dari dulu. Di buku saya kan saya cantumkan juga bahwa imkanu rukyat itu adalah salah satu syarat kalender internasional. Cuma orang biasanya kurang cermat dalam membacanya. Kalender dengan kriteria apapun, syaratnya memang harus imkanur rukyat. Harus dibedakan antara imkanu rukyat sebagai syarat dan imkanur rukyat sebagai kriteria. Kriteria itu ya ukuran kalender itu, tapi kalau syarat mungkin ukurannya tidak imkanu rukyat, namun ia harus memenuhi syarat imkanu rukyat.

Apakah ada tindak lanjut dari kongres itu?

Pasti ada. Terutama tentang kriteria kalender itu. Karena yang diperdebatkan dalam kongres itu oleh para peserta kebanyakan adalah soal aspek fikihnya. Sampai-sampai ada seorang utusan dari Filipina, melihat para fukaha yang menurutnya berlebihan dalam memperdebatkan aspek fikih, mengatakan bahwa seharusnya para fukaha berani berijtihad agar umat Islam tidak perlu terus menghadapi masalah ini dan mengalami kesusahan setiap kali masuk puasa atau hari raya.

Apa langkah selanjutnya Muhammadiyah setelah kongres Turki ini?

Ya kita harus mengkaji kriteria konsep itu dulu, kalau perlu kita mengusulkan kepada komite kalender, karena kriteria itu hanya ada dalam proposal makalah yang diajukan panitia ilmiah. Ketika divoting tidak ada penjelasan bahwa kalender tunggal itu berikut kriterianya yang mana itu tidak ada. Kriterianya tidak disebutkan.



Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah bersama beberapa ulama dalam Kongres Kalender Internasional Hijriah di Istambul, Turiki, 28-30 Mei 2016.


MUHAMMADIYAH MENDAHULUI ISTANBUL

Syamsul Anwar

(Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

Pada tanggal 30 Mei 2016 baru lalu, peserta Kongres Internasional Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul, Turki, mengambil keputusan penting dan bersejarah, yaitu memutuskan menerima kalender hijriah global tunggal sebagai kalender Islam. Keputusan menerima kalender unifikatif hijriah global tunggal ini diambil melalui pemungutan suara (voting) setelah perdebatan tegang tentang pilihan bentuk kalender Islam apakah tunggal atau bizonal.

Kalender tunggal adalah kalender berprinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Kalender bizonal adalah kalender yang membagi dunia menjadi dua zona tanggal, yaitu zona timur dan zona barat, di mana bisa terjadi bahwa antara kedua zona itu terjadi perbedaan tanggal. Hasil pemungutan suara menunjukkan kehendak mayoritas peserta untuk memilih kalender tunggal. Sejumlah 80 puluh suara mendukung kalender tunggal. Sementara kalender bizonal hanya mendapat 27 suara. Empat belas suara abstain, dan 6 suara tidak sah. Jumlah pemilih yang mempunyai hak suara adalah 127 peserta.

Presiden Diyanet I┼čleri Ba┼čkanligi (Badan Urusan Agama) Turki, Prof. Dr. Mehmet Gormes, menyatakan akan menyampaikan keputusan tersebut kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk dibawa ke Oraganisasi Kerjasama Islam (OKI) guna dijadikan keputusan organisasi perkumpulan negara-negara Islam itu.

Keputusan Istanbul 30 Mei 2016 ini merupakan kulminasi dari serangkaian panjang upaya dunia Islam untuk menyatukan sistem penanggalannya, yang telah berlangsung sejak setengah abad lebih yang lalu. Ini boleh dikatakan sebagai suatu peristiwa bersejarah. Dalam pidato sambutannya ketika membuka kongres terseut Deputi Perdana Menteri Turki, Prof. Dr. Numan Kurtulmus, menegaskan bahwa kongres ini bukan saja kongres penyatuan penanggalan Islam, tetapi juga sekaligus kongres penyatuan umat Islam yang telah lama terpecah belah, bahkan sebagian negeri muslim masih dalam pendudukan asing.




Tetapi yang lebih penting lagi untuk dicatat adalah bahwa Muhammadiyah telah mendahului Istanbul untuk mengambil keputusan menerima kalender hijriah global pemersatu. Dalam Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-40 di Makasar tanggal 18-22 Syawal 1436 H / 3-7 Agustus 2015 M, diputuskan, “Berdasarkan kenyataan itulah maka Muhammadiyah memandang perlu untuk adanya upaya penyatuan kalender hijriah yang berlaku secara internasional.”

Dengan keputusan Istanbul, Muhammadiyah tidak sendirian dalam memperjuangkan kalender Islam unifikatif, tetapi juga telah terdapat kepastian pemikiran dunia Islam yang telah berketetapan hati untuk mempromosikan, merealisasikan, dan mengimplementasikan kalender hijriah pemersatu. Kini terpulang kepada umat Islam di seluruh dunia untuk berkemauan menggunakannya guna mengakhiri pertikaian karena perbedaan sistem penanggalan selama ini. Kiranya tidak ada alasan lagi untuk mengingkari sistem kalender tunggal ini. Penolakan terhadapnya berarti memutar jarum jam ke belakang dan merupakan langkah mundur. Mari kita bergerak cepat ke depan dan menjadikan diri sebagai gerakan berkemajuan.***



Saturday, June 04, 2016

Penelitian Potensi Gempa dan Tsunami di Mentawai Agar Tak Kecolongan



http://hariansinggalang.co.id/penelitian-potensi-gempa-dan-tsunami-di-mentawai-agar-tak-kecolongan/

Penelitian Potensi Gempa dan Tsunami di Mentawai Agar Tak Kecolongan

Konsulat Amerika Serikat untuk Wilayah Sumatera di Medan, Indonesia, Y. Robert Ewing, bersama Dosen, Shofwan Karim usai kuliah umum bersama Jubir Kapal Falkor Schmidt Ocean Insti ture Amerika Serikat, Ms Carlie Wiener di Kampus UMSB, Senin (22/6). (lenggogeni)

PADANG – Hari ini, kapal riset R/V Falkor milik Schmidt Ocean Institute
(SOI) berlabuh di Teluk Bayur. Setelah hampir 22 hari meneliti di wilayah Sumatra-Andaman, yang sejajar dengan sisi barat Sumatra dan Pulau Mentawai.

Dari hasil penelitian tim ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Earth Observatory of Singapore (EOS) di Nanyang Technological University (NTU), dan France’s Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP) diperoleh sangat jelas terlihat fenomena pop-up (fenomena kenaikan tanah) di Pantai Barat Mentawai. Perlu tingkatkan kewaspadaan, tetapi tidak perlu panik.

“Penelitian ini bukan untuk menakut-takuti masyarakat, melainkan memberikan edukasi agar meningkatkan kewaspadaan,” tegas Direktur Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Haryadi Permana, Senin (22/6) di sela-sela discussion/presentation and discussion dengan mahasiswa Universitas Andalas dan Universitas Muhammadyah Sumatera Barat (UMSB).

Padang merupakan daerah yang sangat menarik dan sudah jelas informasinya. Kini, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa ataupun tsunami.

“Penelitian ini bertujuan, agar kita jangan sampai kecolongan lagi, seperti kejadian gempa disertai tsunami 2004 di Aceh. Padahal sebelumnya, di bulan Januari ditahun yang sama sudah ada seminarnya. Sayangnya, kita tidak respon. Setelah kejadian, peneliti di Aceh merasa sedih karena sempat memberitahu hasil penelitiannya kepada masyarakat,” tegasnya.

Peneliti-peneliti handal dari Indonesia, Singapura, Perancis dan Amerika Serikat telah bekerjasama meneliti pergerakan lempeng- lempeng yang terjadi diwilayah tersebut.

Dari penelitian terse but, masyarakat tetap waspada, seperti mendirikan bangunan yang tahan gempa ataupun ke arah yang lebih tinggi. Tapi ia menilai, jikalau kota Padang, telah siap menghadapi bencana. (Lenggo)

Pendiri dan Penggerak Muhammadiyah Trans-Nasional



http://hariansinggalang.co.id/pendiri-dan-penggerak-muhammadiyah-trans-nasional/



Pendiri dan Penggerak Muhammadiyah Trans-Nasional

Dr. Maryam Ahmad, Muhammadiyah Maroko tiga dua dari Kanan menyampaikan laporan singkat Muhammadiyah di negerinya ( SK)

Oleh Shofwan Karim

Sebanyak 39 tokoh terpilih calon pimpinan pusat Muhammadiyah oleh peserta sidang Tanwir. Nanti setelah Muktamar maka akan dipilih13 orang formatur sekaligus pimpinan pusat yg baru. Pada 5 tahun lalu, ada 17 orang Pimpinan Pusat ditambah dg sekitar 50 orang majelis dan lembaga. Produk Muktamar kali ini agaknya formasi itu akan tetap bertahan.

Peserta Sumbar boleh gembira karena pemilik suara tertinggi pilihan Tanwir diperoleh Bendahara Umum sekarang Dr. H. Anwar Abbas, putra 50 kota yg terkenal gigih memperjuangkan manajemen keuangan dan aset Muhammadiyah. Bahkan pada siaran media Anwar mengintrodusir gerakan manajemen keuangan Rp10 triliun.

Ada Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, akademisi dan ulama Muhammadiyah yg juga salah seorang Ketua MUI pusat dan sekarang adalah salah seorang Ketua PP Muhammadiyah yg berasal dari Bukittinggi memperoleh suara ketiga terbanyak.

Sementara kita melangkah ke lain sesi. Minggu 2 Agustus sehari sebelum besok Muktamar dibuka Senin, (3/8). Di sebuah hotel pantai Losari berlangsung pertemuan Muhammadiyah internasional.

Muhammadiyah, sebagai dikatakan Ketua Umum Din Syamsuddin, sudah berdiri sejak lebih 15 tahun lalu Amerika, Asia, Eropa, Australia. Pertemuan kali ini dihadiri utusan perwakilan negara-negara ASEAN Kamboja, Filipina, Jepang, Thailand, Singapura, Malaysia dan Timor Leste. Dari Afrika Utara dan Timur Tengah adalah Maroko, Libiya, Tunisia, Mesir, Palestina, Iran, Mauritius.

Setiap negara melaporkan keadaan umum negaranya. Tentang dinamika Islam di negara itu.Selanjutnya Muhammadiyah, pada Muktamar 45 di Malang mencanangkan “go internasional”.

Maka masing-negara melaporkan pada Muktamar kali ini pekembangannya. Ada yang telah mendirikan Pimpinan Cabang Istimewa. Tetapi ada pula yang mendirikan sister-organisasi Muhammadiyah seperti Malaysia dengan Nadia dan Singapura dengan namanya juga Muhammadiyah.

Siapakah pendiri dan penggerak Muhammqdiyah antar negara atau trans-nasional ini?

Pada bebagai negara di Eropa, Amerika, Australia dan Rusia, pendiri dan ativis Muhammadiyah adalah warga diaspora Indonesia. Terutama para mahasiswa yg belajar di berbagai negara itu bersama para diplomat perwakilan Indonesia yg bertugas di berbagai negara tersebut (Bersambung).

Filantropi Angku Nan Jabang

https://drive.google.com/file/d/1pyhdQZVeSPK5A0DhNVhAr04DcH9kTfFW/view?usp=sharing Filantropi Angku Nan Jabang Oleh Shofwan Ka...