Saturday, November 16, 2019

Filantropi Angku Nan Jabang







https://drive.google.com/file/d/1pyhdQZVeSPK5A0DhNVhAr04DcH9kTfFW/view?usp=sharing







Filantropi Angku Nan Jabang
Oleh Shofwan Karim
Tiba-tiba airmata ibu Farhana menetes. Tangannya otomatis menutup wajahnya. Farhana (bukan nama sebenarnya) baru saja mengangkat tangan. Ia bertanya kepada seorang tokoh yang barusan memasarkan asah pikirannya. “SMK Pariwisata kita sudah berdiri resmi tercantum di dalam Dapodik pada tahun 2017. Tahun depan, tepatnya Maret akan ujian akhir. Kami memerlukan 30 komputer. Bagaimana caranya kami mendapatkan Pak? “.

Beberapa detik lagi waktu asar masuk. Saya berbisik kepada Angku Nan Jabang (bukan nama sebenarnya). Beliau duduk di antara saya dan nara sumber. “Pak Haji,” bisik saya kepad Angku Nan Jabang. “Lai mungkin Pak Haji membantu, 30 kali 5, sekitar 150 juta?”.
Tiba-tiba Kepala Pak Haji mengangguk. Saya hampir Tidak percaya. Maka saya ulang lagi berbisik dalam kalimat sama. “Indak baa doh, Selasa pagi lusa, ambo serahkan dananyo”, ujar beliau meyakinkan. Saya terpana.

Saya langsung intrupsi kepada moderator pertemuan. “Mohon sampai di sini acara kita karena azan Asar berkumandang.Dan, 30 Komputer itu sudah sedia dibantu oleh Pak Haji Nan Jabang,” kata saya. Dan otomatis, kata alhamdulillah bergemuruh. Diiringi tepuk tangan. Lebih banyak pula yang menutup mata, bersama ibu Farhana, mereka menangis tanpa suara menyambut pernyataan itu.
Selah shalat malam itu, saya bermunajat kepad Allah. Kiranya Nan Jabang lain makin banyak bertemu di dalam menggerakkan persyarikatan yang kini bersama yang lain kami gerakkan.
Oleh para Antropolog, kesediaan memberikan apa yang ada pada diri seseorang kepada orang lain itu disebut filantropi (philantrophy). Di dalam KBBI di artikan philein berarti cinta, dan anthropos berarti manusia). Filantropi adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain.

Di kalangan kaum Muslimin sejak 14 abad lalu sudah populer sadakah, infak, hibah, wakaf, zakat, hadiah, dan seterusnya. Tentu saja dengan makna, aplikasi, dan eksekusi yang berbeda menurut teks dan konteksnya. Yang pasti, filantropi murni kaum sekuler yang membedakan dunia dan akhirat dan membedakan urusan agama dengan urusan dunia, maka bagi mereka hanya demi kemanusiaan.

Sebaliknya filantropi Islam adalah cara berfikir radikal yang berdasarkan kepada nilai iman-kepercayaan kepada Allah. Inilah radikaslis murni. Bukan radikal yang lain. Dengan itu, api membara mendorong jiwa untuk mencintai manusia lain. Membantu, memberikan akal pikiran, waktu, harta- benda, uang dan material, ilmu, nasihat dan seterusnya adalah filantropi Islam yang hakiki.

“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS, Al-Hadid, 10)


Umumnya organisasi masyarakat, social dan lainnya, hidup dari filantropi yang islami itu. Berkali-kali para pihak mengatakan, cobalah mandiri, tetapi sulit sekali. Ormas apapun, selalu mendapat subsidi dari pemerintah, swasta, lembaga lain, perusahaan dan perorangan.
Bedanya beberapa wilayah, daerah, sedikit ormas ada yang punya usaha produktif, maka bantuan pihak lain sekedar penyempurna dan pelengkap. Akan tetapi lebih banyak yang mengandalkan bantuan pihak lain untuk bergerak. Oleh karena itu, Angku Nan Jabang sudah berbilang orang, amat dan terus hendaknya ada bersama kita. Angku Nan Jabang Lain, semoga terus bertambah. *

Tuesday, November 12, 2019

Pesantren Wahana Kaderisasi Ulama






https://drive.google.com/file/d/0B-zRqiPhkrMARTdxMjh6dVhPVDMyMU51bDVoZlBNbVpka2lz/view?usp=sharing

Revitalisasi Pesantren di Minangkabau Wahana Kaderisasi Ulama (1)

Oleh Shofwan Karim (2)

Beberapa sumber dan literatur menunjukkan bahwa secara terminologis istilah pendidikan pesantren, menurut corak dan bentuknya yang asli adalah suatu sistem pendidikan yang berasal dari India. Pesantren pada mulanya, sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, adalah sistem pendidikan yang digunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu dan Budha. Oleh karena agama Hindu dan Budha lebih duluan masuk dan berkembang di Nusantara, maka setelah Islam masuk dan tersebar di wilayah ini, sistem tersebut kemudian diambil oleh Islam.

Istilah pesantren sendiri bukan berasal dari istilah Arab, melainkan India (Karel A Steenbrink,1986).Dalam kaitan transformasi pendidikan agama ini, istilah orisinal lokal yang bukan dari istilah Arab sudah biasa digunakan seperti halnya istilah mengaji, langgar di Jawa, atau surau di Minangkabau, (Silfia Hanani, 2002:68) Rangkang, Meunasah dan Dayah di Aceh dan sebagainya. Menurut Manfred dalam Ziemek (1986) kata pesantren berasal dari kata santri yang diimbuhi awalan pe- dan akhiran -an yang berarti menunjukkan tempat, maka artinya adalah tempat para santri. Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata sant (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Sedangkan menurut Geertz pengertian pesantren diturunkan dari bahasa India Shastri yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis, maksudnya pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Dia menganggap bahwa pesantren dimodifikasi dari model Hindu (Wahjoetomo, 1997: 70). Zamakhsari Zofir (Zamakhsari,1983) berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti Guru mengaji.

Bagaimanapun, dalam corak yang paling akhir, secara umum pondok pesantren di Indonesia terbagi kepada 3 tipe: Salafiyah ( yang hanya mempelajari agama saja); kombinasi (madrasah dan pondok dalam satu komplek dengan memasukkan ilmu umum, seperti madrasah secara umum) ; dan ashriyah, khalaf atau moderen ( agama dan umum secara seimbang dan dikelola secara manajemen modern). Pada sisi lain sebenarnya 3 tipe ini bisa disederhanakan menjadi 2 tipe saja yaitu : salafiyah (yang teradisional) dan tipe khalaf yang moderen itu.

Sebenarnya, istilah pesantren ini menjadi populer setelah pertengahan tahun 1960-an. Boleh jadi orde baru yang mengagungkan masa lalu dan ada semacam “politik pendidikan” dan suka memakai istilah lama dalam budaya Jawa, sehingga istilah pesantren menjadi populer. Padahal sebelum tahun 60-an, pusat-pusat pendidikan tradisional di Indonesia lebih mengenal sebutan pondok, surau, rangkang, meunasah, dan dayah dan seterusnya seperti disebut terdahulu. Kata pondok berasal dari funduq (bahasa Arab) yang artinya ruang tidur, asrama atau wisma sederhana, karena pondok memang sebagai tempat penampungan sederhana dari para pelajar/santri yang jauh dari tempat asalnya (Zamahsyari Dhofir, 1982: 18).


Di Jawa, pada hakikatnya sebuah pesantren merupakan asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Asrama untuk para siswa tersebut berada dalam komplek pesantren dimana kyai bertempat tinggal. Disamping itu juga ada fasilitas ibadah berupa masjid. Biasanya komplek pesantren dikelilingi dengan tembok untuk dapat mengawasi arus keluar masuknya santri. Dari aspek kepemimpinan pesantren, kyai memegang kekuasaan yang hampir-hampir mutlak.

Dengan demikian maka di antara komponen-komonen pokok yang terdapat pada sebuah pesantren adalah; (1) pondok (asrama santri), (2) masjid, (3) santri, (4) pengajaran kitab-kitab klasik/kitab kuning, (5) kiai dan ustadz (6) madrasah/sekolah (Depag, 2003: 8) serta (7) sistem tata nilai (salaf/ tradisional-khalaf/modern) sebagai ruh setiap pesantren. Pada pesantren-pesantren tertentu terdapat pula di dalammya madrasah atau sekolah dengan segala kelengkapannya (kombinasi).

Mengapa pesantren dapat survive (bertahan) sampai hari ini, ketika lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional pda lembaga seumpamanya di Dunia Islam lainnya tidak dapat bertahan menghadapi perubahan atau modernitas sistem pendidikannya. Secara implisit pertanyaan tadi mengisyaratkan bahwa ada tradisi lama yang hidup ditengah-tengah masyarakat Islam Indonesia yang di dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan. Di Minangkabau istilah surau sudah lama digunakan. Akan tetapi seperti sudah disinggung di atas tadi karena adanya keinginan keseragaman dan adanya keharusan oleh pemerintah yang harus disebut mata anggarannya, misalnya bantuan untuk pondok pesantren, maka istilah pesantren di jawa meluas ke hampir seluruh wilayah tanah air Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Maka istilah-istilah lama seperti surau inyiak Canduang, surau inyiek Parabek, surau inyiek Jaho, surau Jambatan Basi dan seterusnya diganti menjadi istilah Pesantren tadi. Sebenarnya mendahului istilah pesantren ini, istilah madrasah sudah ada. Tetapi madrasah lebih kepada sekolah yang tidak mewajibkan siswanya tinggal di menetap di lokasi. Sementara istilah pesantren, lebih diutamakan kalau muridnya, siswanya atau santrinya di samping sekolah belajar agama di tempat itu, juga bertempat tinggal di lokasi tempat belajar tadi.

Sebenarnya istilah pesantren, madrasah atau surau, atau sekolah, secara institusional memiliki perbedaan karakter. Tetapi di dalam tulisan ini karena pertimbangan praktis dan efisiensi tidak dibahas. Yang ingin selanjutnya didiskusikan di sini adalah, apakah lembaga pendidikan pesantren mungkin menjadi wahana atau tempat penggodokan calon-calon kader ulama.

Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Secara normatif seharusnya pesantren memang menjadi wahana keaderisasi ulama. Tetapi secara faktual, bagaimana? Apalagi sampai sekarang sosok dan kompetensi ulama yang didambakan oleh masyarakat belum ada kesepakatan umum yang memadai sebagai standar. Pada kalangan tertentu nomenklatur ulama lebih dipahami sebagai orang yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang dalam, bukan sekadarnya saja. Mereka taat beribadah, memiliki sifat-sifat wara’ (sungguh dan rendah hati) memiliki integritas pribadi yang tinggi, qanaah atau mencukupi kepentingan dunia secara sederhana dan tidak berlebihan apalagi terkesan mewah. Ulama menjadi mumpuni (disegani) dan memiliki percaya diri yang tinggi serta kharisma, wibawa dan akhlak yang mulia. Lebih dari itu diri dan keluarganya tidak punya aib dan cela etika, sosial dan ekonomi. Tentu saja di dalam pergaulan sosial, sosok ulama yang diidamkan adalah yang uswatun hasanah, ikutan ummat, pergi tempat bertanya, pulang tempat berberita. Mereka yang hanya punya ilmu, berakhlak dan integritas saja bukan dari kalangan yang berkecimpung di dalam soal-soal agama dan keagamaan, ghalibnya mungkin disebut para sarjana, ilmuwan atau cendekiawan (zu’ama) saja.

Pada pihak lain ada obsesi ummat yang menggebu-gebu, bahwa yang dimaksud ulama itu adalah tokoh identifikator seperti Inyiak H. Agus Salim, Buya HAMKA, Buya AR Sutan Mansyur, Buya HMD Dt. Palimo Kayo, belakangan H. Harun el-Maany di Kauman Padang Panjang. Atau mendahului generasi ini, yang diinginkan adalah ulama seperti ayahnya HAMKA, Inyiak Rasul atau HAKA (Haji Abdul Karim Amarullah); Inyiak Ibrahim Musa atau Inyiak Parabek; Inyiak Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, Inyiak Sulaiman al-Rasuli atau Inyiak Canduang; Inyiak Jaho, Thaib Umar di Sungayang dan seterusnya.

Menurut hemat penulis, mayoritas atau kalau bukan semuanya, para ulama-ulama besar tadi, secara utuh menurut biografi yang terbaca, dikenal bukan karena lahir dari sebuah pesantren, surau, madrasah atau sekolah, tetapi setelah mengalami penjelajahan dan eksplorasi ilmu melalui pendidikan di berbagai tempat, baik formal maupun informal dengan kesempurnaan upya mereka ber-autodidak . Dimulai pendidikan awal dari keluarga yang pada umumnya, ayah mereka sudah ulama dalam ukuran yang relatif mumpuni (punya nama, disegani dan berwibawa) di masanya, kemudian memang mereka menuntut ilmu ke berbagai surau dan lalu sebagai lanjutan yang lebih dalam mereka menyauk ilmu ke sumbernya di Timur Tengah untuk memperdalam ilmu agamanya. Kemudian mereka pulang dan menjadi tempat ummat mengadukan soal-soal kegamaan dan kehidupan. Lebih dari itu mereka lebih kepada auto didak. Di antara mereka (sebagian besar) berbasis madrasah atau surau atau lembaga pendidikan tempat pusaran kehidupan. Zainudin Labay el Yunusi, berdua dengan saudara perempuannya Etek Rahmah El-Yunusiah yang satu-satunya ulama perempuan diberi gelar Syaikhakh oleh Universistas Al-Azhar Kario, Mesir (1960-an). Kedua besaudara ini mendirikan madrasah Diniyah Putra dan kemudian Diniyah Putri. Inyiak Rasul mendirikan Thawalib Padang Panjang sementara Inyiak Parabek dan Inyiak Canduang mendirikan madrasah di parabek dan di Candung, begitu pula inyiak Jaho di Jaho Padang Panjang. Abdullah Ahmad dengan PGAI dan Adabiyahnya. Inyiak Jambek dengan surau inyiak Jambek yang dikenal itu.


Apabila padanan klasik tadi yang disebut ulama yang dijadikan rujukan dewasa ini, maka menjadikan pesanatren sebagai wahana kaderisasi ulama meminta beberapa hal yang harus dipertimbangkan berikut ini. Pertama, pesantren sekarang harus memiliki tokoh ulama besar atau guru besar seperti kiyai kalau di Jawa. Tokoh ini bukan saja menjadi guru yang mengajarkan ilmu, tetapi langsung menjadi role-model bagi para santrinya sekaligus soko gru atau tonggak utama bagi ustaz dan ustazah serta guru di pesantren tersebut. Menurut hemat penulis, tokoh yang seperti disebutkan tadi itu yang langka (untuk tidak menyebutkan tidak ada) sekarang ini di pesantren, di Sumbar. Pada pondok pesantren ini harus ada semacam kiyai tadi yang di sini boleh disebut Buya, Tuanku atau Inyiak. Beliau-beliau itulah yang menjadi motor penggerak, oran tua dan tokoh utama pemilik otoritas penuh pengendali ilmu, moral, akhlak dan kharisma sebuah pesantren.

Kedua, soal subyek ilmu dan kurikulum yang diajarkan. Sudah dimaklumi, bahwa apapun pesantrennya, sekolah dan madrasahnya dewasa ini yang ingin tamatan atau lulusannya mendapat civil effect dan pengakuan pemerintah, seyogyanyalah menggunakan kurikulum resmi pemerintah yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum. Seberapa jauh tingkat daya serap santri, siswa atau murid mampu mengikuti dan menguasai mata pelajaran yang sangat banyak tersebut, tentu perlu direnungkan. Bila sosok ulama klasik masa lalu yang akan dilahirkan, maka mata belajaran atau subyek ilmu-ilmu yang diajar dan dipelajari harus diseleksi sedemikian rupa dan yang paling utama adalah ilmu-ilmu agama itu sendiri yang diprioritaskan. Ulumul qur’an dan ulumul hadist, fikih dan ushul fikih, tauhid, ilmu tasawuf, ilmu akhlak dan seterusnya. Semua itu harus secara simultan lebih intensif menguasai Bahasa Arab, sehinggga pada kelas tertentu sudah mampu menguasai kitab gundul atau kitab kuning secara memadai. Kompetensi penguasaan ilmu dan ilmu alat yang disebut Bahasa Arab itu, tidak bisa ditawar-tawar, alias sudah suatu kewajiban utama. Sejauh ini, untuk mendukung optimasi kompetensi sebagai kader ulama, mata pelajaran pendukung seperti matematik, dan dasar-dasar ilmu ekonomi, perlu dipertimbangkan pula untuk mampu menjadi bekal nanti ketika pada saatnya para santri yang selesai belajar di pesantren ini menjadi tempat ummat bertanya kelak untuk menghitung pembagian harta warisan, ilmu faraidh, pembagian zakat, infak dan sadakah serta penggerak dan inspirator ekonomi syariah di kemudian hari. Rasanya, ilmu-ilmu umum dan humaniora seperti sejarah, ilmu kewarganegaraan dan lain-lain tadi harus diseleksi sedemikian rupa, sehinggga ketersediaan waktu, serta kekuatan daya tangkap santri terhadap ilmu-ilmu pokok agama lebih kondusif dibandingkan dengan segala macam ilmu harus dijejalkan ke otak mereka.


Di balik itu, yang perlu sekarang adalah tekad, keberanian, kerja keras, kerjasama dan sama-sama bekerja untuk merevitalisasi pesantren sebagai wahana kaderisasi ulama. Untuk ini perlu beberapa langkah. Pertama, perubahan reorientasi institusional. Institusi pesantren seharusnya memang bertujuan untuk tafaqquh fi al-din (QS). Selama ini, secara selintas untuk Sumbar, kelihatannya pesantren sama saja dengan madrasah agama yang penguasaan ilmu pengetahuan umum kurang, ilmu dan pengetahuan agama juga kurang. Ada resiko memilih yang perlu diambil. Bila sebuah pesantren diharapkan menjadi wahana kaderisasi ulama, maka pilihan lain tidak ada kecuali memberikan porsi dominasi subyek ilmu-ilmu agama yang standart yang dominan. Kedua, input atau calon santri yang masuk harus yang punya niat dan kecerdasan yang mendukung untuk benar-benar belajar agama dan kalau mungkin, ada dalam hati mereka yang paling dalam untuk menjadi pewaris nabi, al-ulama warastatul anbiya’. Kenyataan sekarang, sekolah agama atau pesantren oleh sebagian besar generasi muda menjadi alternatif terakhir. Akibatnya, seperti yang disitir Nurckholish Madjid (2003):

“ sering kali terjadi orang-orang yang tidak lulus tes masuk perguruan tinggi kemudian lari ke pesantren untuk menjadi santri dan kemudian menjadi ulama. "Dengan demikian, terkesan bahwa orang-orang yang menjadi ulama adalah manusia-manusia sisa yang potensinya rendah. Akhirnya malah menjadi ulama-ulama yang kurang pandai." (http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0311/14/daerah/688368.htm)

Ketiga, perlu dipikirkan sinerjisitas dan hubungan yang erat, terkait dan saling menguntungkan antara pesantren dengan perguruan tinggi agama seperti IAIN dan Universitas Islam yang memilki fakultas dan program studi yang mendukung pendidikan lanjutan kaderisasi ulama. Apabila lulusan pesantren yang sudah kuat dasar-dasar ilmu agamanya melanjutkan ke perguruan tinggi Islam yang subyek studinya bertumpu pada perangkat keras ilmu-ilmu agama Islam seperti ulumul qur’an, ulumul hadist, fikih, ushul fikih, tauhid, akhlak, tasawuf dan filsafat, maka ada optimisme yang realistis untuk melahirkan ulama-ulama pada waktunya kelak.

Di sinilah tantangan baru harus berani dihadapi. Apakah sosok, kompetensi dan profile ulama yang diharapkan ummat ke depan masih yang klasik atau sudah berubah kepada yang lebih alit, kontemporer (kekinian) bahkan avant-garde (perintis ke depan/pelopor). Diramalkan, dan kelihatannya sekarang sudah semakin jelas, pengaruh media grafika dan elektronika serta perkembangan teknologi komunikasi-informasi (information communication technology/ICT) amatlah dominan dalam kehidupan sosial dan masyarakat, ummat dan bangsa sehari-hari dewasa ini. Baik pada skala dan radius lokal, nasional, regional lebih-lebih mondial atau internasional. Oral media atau mimbar langsung tatap muka, masih tetap dominan dan bertahan dan itu tampaknya lebih kepada konsumen generasi tua. Untuk generasi muda, perkembangan ICT dan media ini amatlah perlu dicermati dan diarifi dengan cerdas. Maka kompetensi ulama harus diberi bobot baru, di samping menguasai kitab kuning, ulumul qur’an, ulumul hadist, fikih, ushul fikih, tasawuf, tauhid dan filsafat dan Bahasa Arab, maka kapabilitas menggunakan bahasa asing lainnya seperti Bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Perancis dan seterusnya serta penguasaan ICT serta media tadi, merupakan tuntutan afirmatif yang tidak bisa diabaikan. Mimbar langsung di Masjid dan Mushalla, sudah semakin diinterfensi oleh audio (radio), audio-visual (TV), dan virtual world , dunia maya electronic- internet. Yang disebut paling belakangan ini para ulama harus mencoba memberikan bimbingan kepada ummatnya melalui jagat raya yang lebih komplit melalui cellular phone dengan sms, tayangan audio-visiual, website dan blog di dunia maya tadi .

Dengan demikian, maka wacana atau diskursus tentang pesantren sebagai tempat penggodokan kaderisasi ulama, perlu menekankan bahwa pengajaran ilmu di sini harus diseiringkan dengan penguasaan perangkat ICT dan media tadi. Dengan demikian, tentulah diperlukan laboratorium bahasa, laboratoium komputer, perpustkaan konvensional dengan kitab-kitab dan buku-buku putih dan kuning serta diseiringkan bahkan harus disejajarkan dengan keberadaan perpustakaan moderen digital yang on-line dengan seluruh jaringan koneksi internet di dunia. Itu semua tentulah tantangan yang amat besar. Sanggup atau tidak, secara ainul dan haqqul yakin semua pesantren dengan perangkat-perangkatnya (pengelola, manajemen, yayasan dan guru serta, buya dan inyiak) akan menghadapi situasi dan kondisi yang amat berubah dan sudah serta sedang berubah ini. Wa Allah a’lam bi al-shawab.***




[1] Untuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional, “Urang Minang Baralek Gadang”. Tulisan ini dalam versi yang agak panjang pernah disampaikan pada Workshop Revitalisasi Pesantren sebagai Wahana Kaderisasi Ulama, 9 Oktober 2008 diselenggarakan oleh Pondok Pensantren Diniyah Pasie, Candung, Agam.

[2]Shofwan Karim, lengkapnya DR. Drs. H. Shofwan Karim Elha, BA. MA., adalah Dosen IAIN IB Padang, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar dan Sekretaris ICMI Orwil Sumbar serta Komisaris PTSemen Padang. Pendidikan, BA (1976) dan Drs (1982) IAIN Imam Bonjol Padang. MA (1991) Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. DR (2008) Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Wednesday, October 16, 2019

Kunjungi Muhammadiyah, Dubes AS Apresiasi Kebebasan Beragama di Indonesia

Kunjungi Muhammadiyah, Dubes AS Apresiasi Kebebasan Beragama di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph Donovan mengunjungi kantor PP Muhammadiyah pada Selasa (15/10/2019). Kedatangannya disambut langsung Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir.
Pertemuan tersebut telah direncanakan sejak awal 2019 oleh Donovan namun belum ada waktu yang tepat bagi kedua pihak untuk mengadakan pertemuan.
Adapun pertemuan tersebut merupakan agenda rutin bagi Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk melakukan konsultasi dengan pemimpin Indonesia baik dari lembaga sipil maupun organisasi keagamaan. Pertemuan tersebut membahas beberapa poin penting, terlebih hubungan antara AS dan Muhammadiyah.
Kedutaan Besar AS mengapresiasi Muhammadiyah sebagai organisasi yang telah memberikan contoh kuat kepada dunia tentang penghormatan akan kebebasan beragama dan pentingnya keberagaman. Selain itu, mereka juga membahas tentang kesuksesan kerja sama antara Muhammadiyah dan Kedutaan Besar AS dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Beberapa hasil nyata kemitraan tersebut juga dibahas, beberapa di antaranya adalah literasi media, gerakan antikorupsi dan juga kesehatan publik. 
Selain isu nasional, masalah yang menjadi perhatian dunia pun turut dibahas. Pihak Kedutaan Besar AS untuk Indonesia terus mendukung dan mendorong Muhammadiyah dalam menyuarakan keprihatinannya terhadap aksi represif yang terjadi di beberapa negara tetangga, salah satunya China.
Walaupun Donovan tidak mengatakan adanya kerja sama perihal masalah tersebut, namun ia tetap menyorot hal tersebut sebagai keprihatinan kedua belah pihak. Pihaknya dan Muhammadiyah sama-sama sepakat bahwa isu kemanusiaan yang terjadi saat ini merupakan salah satu masalah terbesar dan membutuhkan lebih banyak pihak internasional untuk terlibat di dalamnya.
Duta Besar AS yang sudah bertugas di Indonesia sejak 2016 itu pun sempat menyinggung penyelenggaraan Pemilu 2019 yang telah berlangsung di Indonesia.
"Saya mengucapkan selamat atas pemilu yang berlangsung beberapa waktu lalu. Itu merupakan sejarah pembangunan demokrasi bagi Indonesia. Saya siap untuk bekerja sama dengan pemimpin terpilih di masa mendatang," ujar Donovan pada konferensi pers usai pertemuannya dengan pihak Muhammadiyah.


Sunday, September 29, 2019

PP Muhammadiyah dan Demo Mahasiswa


   


Sosok Almarhum Randi yang Dikenang sebagai Kader Progresif


Jalan Tengah Pak AR Menyikapi Taqlid Buta dan Bid’ah


HomeBerita/ Pernyataan PP Muhammadiyah Tentang Demonstrasi Mahasiswa dan Pembahasan RUU

Pernyataan PP Muhammadiyah Tentang Demonstrasi Mahasiswa dan Pembahasan RUU

29 September 2019 11:25

Mencermati situasi yang berkembang di tanah air berkaitan aksi mahasiswa dan masyarakat yang terjadi di Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan:

 

1.Menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas mahasiswa yang meninggal dunia dan mengalami luka-luka dalam demonstrasi menyampaikan aspirasi politik terkait Revisi UU KPK, RKUHP, RUU PKS, dan RUU Pertanahan. Kepada yang meninggal dunia disampaikan dukacita semoga husnul khatimah dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Kepada yang luka-luka semoga diberikan kesembuhan oleh Allah. Terhadap para korban hendaknya Pemerintah memberikan santunan sosial yang sebaik-baiknya.

 

2.Menyayangkan sikap aparatur keamanan yang cenderung represif dan kurang mengedepankan pendekatan persuasif. Karena itu berkaitan dengan meninggalnya peserta unjuk rasa Muhammadiyah mendesak Pemerintah, khususnya Kepolisian, untuk melakukan investigasi secara objektif dan terbuka dengan menegakkan hukum kepada mereka yang terbukti bersalah dengan hukuman yang seberat-beranya.

 

3.Memahami adanya aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat yang menghendaki dicabutnya Revisi UU KPK dan beberapa rancangan perundang-undangan yang lainnya. Aksi massa merupakan tindakan legal dan ekspresi demokrasi sepanjang dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku, tertib, damai, dan berkeadaban. Harus dihindari aksi yang menjurus anarki dan tidaklah bertanggungjawab manakala ada politisasi atau tindakan-tindakan yang menyalahgunakan unjuk rasa dan memperkeruh keadaan.

 

4.Meminta kepada Pemerintah dan DPR untuk mendengar dan mengakomodasi aspirasi masyarakat secara bijaksana, terbuka, rasional, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan bangsa dan negara. Pemerintah dan DPR hendaknya menghindari sejauh mungkin praktik pengambilan keputusan yang transaksional demi kekuasaan dan kepentingan kelompok tertentu. Penundaan sejumlah RUU benar-benar disertai penyerapan aspirasi publik secara objektif untuk perbaikan dan penyempurnaan yang substansial serta tidak sekadar mengulur waktu atau formalitas semata. Mendukung Presiden Republik Indonesia untuk mengeluarkan PERPPU atas UU KPK hasil revisi demi kepentingan bangsa dan tegaknya pemberantasan korupsi di Indonesia.

 

5.Menghimbau kepada semua pihak untuk menahan diri dan menciptakan situasi yang kondusif serta tidak menyebarkan berita yang keliru, penyesatan informasi, hoaks, dan provokatif baik berupa visual maupun narasi teks dan lisan. Para pejabat negara, tokoh partai, pimpinan organisasi, tokoh masyarakat, umat, dan segenap warga bangsa hendaknya turut serta memberikan pencerahan dan memberikan pernyataan yang sejuk, damai, dan menyelesaikan masalah sekaligus menjaga keutuhan dan kebersamaan dalam kehidupan kebangsaan. Hendaknya ditegakkan nilai-nilai kebaikan, etika, dan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagai bukti bangsa Indonesia memiliki pedoman hidup agama, ideologi Pancasila, dan kebudayaan luhur yang selama ini menjadi fondasi hidup bangsa Indonesia.

 

6.Khusus kepada seluruh warga, pimpinan Amal Usaha, organisasi otonom, majelis, lembaga, dan Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah di semua tingkatan hendaknya tetap menjaga soliditas gerakan dan organisasi dengan mematuhi Kepribadian, Khittah, dan kebijakan Pimpinan Pusat. Semua pihak di lingkungan Persyarikatan hendaknya tidak membuat pernyataan dan kegiatan atau tindakan yang bertentangan dengan garis kebijakan Pimpinan Pusat.

 

7.Sesuai kewenangan dan tanggung jawab, Pimpinan Pusat Muhammadiyah baik secara personal maupun kelembagaan telah melakukan berbagai ikhtiar melalui jalur komunikasi dan lobby agar Pemerintah dan DPR dapat lebih arif dan bijaksana, berpihak kepada kebenararan dan keadilan untuk kepentingan Indonesia. Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan senantiasa melaksanakan langkah-langkah konstruktif sebagai wujud partisipasi dan peran dakwah kebangsaan dalam menegakkan keutuhan, keamanan, kedamaian, kemajuan, dan persatuan bangsa.

 

Unggah pernyataan resminya di sini


Pernyataan PP Muhammadiyah Tentang Demonstrasi Mahasiswa dan Pembahasan RUU

29 September 2019


 

Aksi Solidaritas AMM DIY Tuntut Penyelesaian Kasus Penembakan Randi

29 September 2019


 

UMY, Satu-Satunya PTS dengan Prodi Magister Ilmu Hubungan Internasional Peraih Akreditasi "A" di Indonesia

28 September 2019


 

1.540 Lulusan UM Purwokerto Siap Membangun Indonesia

28 September 2019




Gabung di Facebook

M-Channel1912

Instagram

Copyright © 1997 Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Filantropi Angku Nan Jabang

https://drive.google.com/file/d/1pyhdQZVeSPK5A0DhNVhAr04DcH9kTfFW/view?usp=sharing Filantropi Angku Nan Jabang Oleh Shofwan Ka...