Tuesday, July 29, 2008

Islam dan Demokrasi

Diskusi dengan Pakar Islam dari Maroko dan Amerika Implementasi Demokrasi Indonesia Bergeser
Selasa, 29 Juli 2008


Sample Image Penerapan demokrasi di Indonesia lebih maju dibanding dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya. Meski begitu, penerapan sistem demokrasi di negeri ini bertolak belakang dari prinsip-prinsip dasarnya. Sebab, esensi dari demokrasi adalah mengutamakan kepentingan rakyat banyak, bukan mengedepankan kepentingan kelompok atau golongan.

Demikian benang merah yang terangkum dari diskusi pakar studi Islam dari Universitas Adelphy New York Prof Abdin Chande, pakar politik dari Maroko Prof Dr Said Kh El Hassan, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar Dr Shofwan Karim Elha MA dengan awak redaksi Padang Ekspres, di Carano Room, kemarin.

Sebelumnya, mereka tampil pada seminar international yang digelar di IAIN Imam Bonjol Padang dengan tajuk “International Seminar on Al Quds History and Demografy”. Hadir dalam diskusi tersebut, Pemimpin Umum Padang Ekspres H St Zaili Asril, dan jajarannya. Prof Abdin Chande menyatakan, penerapan demokrasi di Indonesia cenderung lebih mengutamakan keberadaan parpol.

Ini didasarkan pada kemunculan sejumlah parpol terlebih menjelang pesta demokrasi. Abdin yang juga sumando rang Sianok, Bukittinggi ini menilai, saat ini aplikasi sistem demokrasi di Indonesia bisa dikatakan berbeda bila dibandingkan beberapa dekade, atau tepatnya di era kepemimpinan Soeharto.

“Demokrasi saat itu bisa dikatakan berjalan baik. Setiap pelosok kampung yang saya datangi di Indonesia, ternyata telah ada kemajuan. Penduduk sudah mampu hidup mapan, dibuktikan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan sampai ke pelosok mereka bisa menikmati televisi yang disambungkan dengan parabola. Demikian pula dengan kondisi jalannya yang sudah banyak diaspal,” ujarnya seraya menyatakan bahwa saat ini muncul semacam harapan untuk kembali ke sistem pemerintahan di era Soeharto.

“Seperti inilah nilai harfiah dari sebuah demokrasi. Kepentingan atau kemakmuran rakyat lebih utama dibandingkan kepentingan golongan atau kelompok. Dengan makmurnya rakyat, maka negara akan kuat,” tukasnya lagi. Abdin mengakui, untuk negara asalnya di Uganda yang memegang azas demokrasi, ternyata tidak seberhasil Indonesia. Demokrasi dijalankan hanya sebatas golongan tertentu saja. “Hal inilah yang sering menjadi permasalahan bagi warga negara asalnya tersebut,” sambung Abdin lagi.

Me-resume tema diskusinya di IAIN bertajuk “Islam and Democracy”, Abdin menyatakan bahwa ada dua pendapat tentang Islam dan demokrasi. Yang pertama, tidak ada hubungan antara Islam dengan demokrasi. Islam merupakan agama. Sementara demokrasi soal rakyat yang merupakan soal sekuler. Dalam Islam, kalau ketentuan tentang Al Quran dan hadist tak perlu lagi diperdebatkan, demokrasi tidak ada hubungannya dengan soal Ketuhanan.. Pendapat ini muncul di kalangan kaum tradisionalis. Seperti antara lain Abul A'la al-Maududi di Pakistan dan beberapa yang lain di Timur Tengah. Yang kedua mengatakan ada hubungan yang signifikan antara Islam dan demokrasi. Mereka menekankan kepada pentingnya makna syura (musyawarah),. persamaan hak-hak manusia dan keadilan seperti pendapat Muhammad Abduh di Mesir dan Fazlurrahman di Amerika .Pendapat ini berkembang di kalangan Islam modernis.

Sementara pakar politik dari Maroko Prof Dr Said Kh El Hassan menyebut bahwa demokrasi itu berhubungan dengan sistem nilai. Nilai-nilai paling tinggi itu adalah Tuhan. Di luar tuhan adalah nilai-nilai yang bersifat duniawi. Di sisi lain, Prof Dr Said yang akan menggelar konferensi untuk memperjuangkan Al Quds (Jerussalem), sebagai kota suci ketiga umat Muslim yang dijajah Israel, di Jakarta, menyatakan, pihaknya konsen memperjuangkan Al Quds yang kini dikangkangi Israel. “Zionis Israel itu menolak mentah-mentah peradaban Islam. Ini harus terus kita perjuangkan.Sample Image

Intinya, kami ingin mensosialisasikan bahwa isu Al Quds bukan hanya menjadi isu Palestina atau Arab saja, tapi seluruh umat Muslim di dunia,” ujar prof keturunan Palestina itu. Ia menyatakan, pihaknya memilih Jakarta untuk tempat konferensi Al Quds karena merupakan ibukota negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Pakar studi IslamUniversitas Adelphy New York Prof Abdin Chande (tengah), menyampaikan pemikirannya, di Carano Room, kemarin.

Negara Barat dengan pengaruh politiknya hingga kini terus berupaya mengelabui pihak dunia dengan melontarkan isu bahwa demokrasi yang diinginkan warga Arab, khususnya Palestina tidak bisa diterapkan karena akan memicu konflik berkepanjangan.

Pada hal, sebut Said, pola ini merupakan langkah propaganda dari pihak zionis Israel agar niat mereka untuk tetap bercokol di Al Quds bisa lebih lama. Sebagai gambaran, lanjut pakar politik ini lagi, bahwa sistim demokrasi yang dipakai bangsa Arab, sejak 14 abad lalu tidak memakai sistem belah bambu. Aplikasi demokrasi yang berpijak pada ajaran Islam yang diterapkan saat itu malah memberikan kebebasan bagi bangsa lainnya ingin tinggal di Al Quds khususnya dan Palestina umumnya.

Jadi bisa ditegaskan, kata Said lagi, keberadaan Zionis Israel bersama kroninya di Palestina bertujuan menlawan peradaban negara Islam, dan bukan soal agamannya. Tentunya, ada pertanyaan kenapa langkah itu dilakukan pihak Zionis Israel, tanya Said Kh El Hassan. Ini tidak lain karena perspektif demokrasi yang dianut Israel dan kroninya itu lebih mengarah pada kehendak individu atau golongan. “Cara ini jelas bertolak belakang pada azas demokrasi sebenarnya, yang berangkat pada kepentingan rakyat,” tukasnya. (***)

Wednesday, July 16, 2008

Fundamentalisme

http://www.padangekspres.co.id/content/view/12450/55/



Fundamentalisme Barat Bukan Islam
Selasa, 15 Juli 2008
Oleh : Shofwan Karim, Dosen Jurusan Akidah dan Filsafat IAIN IB Padang
Fundamentalisme (Fundamentalism) terambil dari kata latin fundamentum yang berarti dasar. Fundamentalisme adalah gerakan dalam agama Protestan Amerika yang menekankan kebenaran Bible bukan hanya dalam masalah kepercayaan dan moral, tetapi juga sebagai catatan sejarah tertulis dan kenabian; misalnya tentang kejadian, kelahiran Kristus dari ibu yang perawan dan sebagainya (Ka’bah, 1984). Dalam kalimat lain fundamentalisme adalah memelihara interpretasi literal tradisi kepercayaan dalam agama Kristen yang berlawanan dengan ajaran yang lebih moderen (AS Hornby, 1987).

Menurut Imarah (1999) fundamentalisme di dunia Barat bermula dari gerakan Kristen Protestan Amerika pada abad ke-19 M. yang mengimani bahwa Al-Masih secara fisik akan kembali ke dunia untuk yang kedua kalinya mengatur dunia ini seribu tahun sebelum datangnya kiamat. Makna ini mereka pegang terhadap ”mimpi” Yohana (Kitab Mimpi 20-1-10) secara literal. Maka gerakan ini disebut juga Gerakan Millenium. Gerakan ini pada abad ke-20 menjadi sekte independen yang selalu mensosialisasikan dan mengkristalisasikan pemahaman seperti ini di kalangan mereka atau pihak luar terhadap penafsiran injil yang bersifat literal tersebut. Pendeta-pendeta mereka mengajak untuk memusuhi realita, menolak perkembangan dan memerangi masyarakat sekuler yang baik maupun yang buruk. Mereka mengklaim bahwa mereka mendapat tuntutan langsung dari Tuhan.

Mereka mengisolisasikan diri dari masyarakat umum, menolak berinteraksi dengan realitas, memusuhi akal dan pemikiran serta hasil penemuan dan penelitian ilmiah dan seterusnya. Itulah sejarah fundamentalisme Barat dengan visi Kristen yang berkembang hingga sekarang ini. Selain itu istilah fundamentalisme sering dikontradiksikan dengan modernisme (Ka’bah, 1984:2) yaitu aliran yang mengutamakan setiap yang moderen atau baru dari setiap apa yang lama dan kuno. Modernisme dalam rangka ini, dapat bercirikan: kreatif terhadap fenomena dengan metode ilmiah untuk kepentingan manusia. Ciri lain adalah diferensiasi dan fleksibel dalam mekanisme sosial dan memupuk keahlian, serta pengatahuan individual untuk hidup dalam dunia teknologi maju (Ka’bah, idem).

Segaris dengan itu fundementalisme juga berarti oposisi para gerejawan ortodoks terhadap sains modern, ketika para saintis modern itu menemukan dan menganalisis sesuatu yang bertentangan dengan yang disebutkan secara literal oleh Bible. Dengan kata lain orang-orang yang mempertahankan sikap-sikap ortodoks ini dalam Kristen menamakan dirinya sebagai fundamentalis yang secara diameteral bertentangan dengan liberalisme dan modernisme. Di lain pihak, masih menurut Imarah (1999) istilah fundamentalisme yang pada umumnya diterjemahkan menjadi ushuliyah di kalangan kaum muslimin tidak begitu populer. Di dalam wacana Al Quran, al-ashlu bermakna dasar sesuatu, bagian terbawah dan akar. Bentuk jamaknya adalah ushul, seperti dalam Al Hasyr: 5, Al Shaaffat: 64 dan Ibrahim: 24,

(Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah ...; Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka Jahim; Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit) Oleh ulama fikih al-Ashlu menurut Imarah (1999) juga disebut untuk undang-undang atau kaidah yang berkaitan dengan cabang atau furu’ dan masa yang telah lalu. Ulama ushul fikih misalnya mengatakan, al-Ashlu fi syai al-ibahah asal segala sesuatu adalah boleh. Ushul adalah juga berarti prinsip-prinsip yang telah disepakati atau diterima.

Selanjutnya bagi ulama usul fikih, kata al-Ashlu dapat dipahami dalam beberapa makna. Pertama, dalil. Dikatakan bahwa asal masalah ini adalah Al Kitab dan Sunnah. Kedua, kaidah umum. Dan ketiga, yang rajih atau paling kuat dan paling utama (Ibn Manzhur, 1891). Dalam konteks ini (Imarah, 1999) mengkaitkan bahwa dalam peradaban Islam telah dibangun ilmu-ilmu ushuluddin: Ilmu Kalam, Tauhid dan Ilmu Fikih. Juga Ilmu Ushul Fikih yaitu ilmu yang membahas kadiah-kaidah dan analisis yang digunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan hukum-hukum syara’ secara praktis menurut rincian dan dalil-dalilnya. Begitu pula ada ushul hadist yang disebut musthalah hadist.

Dengan uraian di atas, maka nampaknya dalam studi klasik dan perkembangan Islam tidak dikenal istilah ushuliyah dalam makna Barat yang disebut fundamentalisme dalam segala pengertian-pengertian yang dikenal Barat seperti di atas tadi. Oleh karena itu seperti dielaborasi oleh Imarah (1999) terlepas dari semua itu, aliran pemikiran atau mazhab apapun dalam Islam tidak pernah ada yang bersikap seperti kaum fundamentalisme Barat tadi dalam menyikapi dan menggunakan penafsiran Al Quran dan Al Sunnah.

Jadi, penamaan fundamentalisme terhadap kelompok tertentu dalam Islam dari kacamata Barat sebenarnya tidak tepat. Keadaan itu amat berbeda bahkan jauh dari konsep dasar yang mereka kembangkan terhadap fundamentalisme Kristen pada abad ke-19 dan berkembang di abad 20 lalu yang menolak sama sekali penafsiran dan takwil atau majas dan metafor lainnya. Yang ada dalam Islam adalah perbedaan kadar penakwilan. Ada yang membatasi atau sedikit, lebih banyak atau sedang-sedang saja bahkan ada yang lebih berani dalam hal yang lebih luas.

Pada pokoknya penakwilan itu sama sekali tidak ditolak oleh aliran dan mazhab dalam Islam seperti yang terjadi pada sekte tertentu Kristen Protestan di awal abad ke-19 itu. Dalam hal penggunaan akal, serta metoda ilmiah dalam mengaplikasikan agama, serta respons terhadap modernisme juga amat berbeda dengan kalangan fundamentalisme agama visi Barat. Islam tidak menolak, tetapi menyeleksi semuanya itu. Mana yang relevan, dapat diakomodasi mana yang merusak, ditolak. ***


Wednesday, July 09, 2008

CURRICULUM VITAE








A. Data Pribadi

1. Nama/NIP H. Shofwan Karim Elha, BA., Drs., MA., DR. / 150 222234 (lama); 195212121985031003 (baru)

2. Pekerjaan Dosen Fakultas Ushuluddin  IAIN Imam Bonjol Padang/Rektor UMSB  (2001; 2004; 2005-2013); Sekarang Ketua PW Muhammadiyah Sumbar 2015-2020

3. Pangkat/Golongan Pembina (IV/a) Lektor Kepala MK Perkembangan Moderen di Dunia Islam (PMDI)
4. Jenis Kelamin Laki-laki
5. Tempat/Tanggal lahir Sijunjung, 12 Desember 1952
6. Alamat Jl. Garuda No. 51 Tunggul Hitam Padang 25176
shofwan.karim@gmail.com,
http://shofwankarim.blogspot.com,

7. Keluarga

Ayah H. Abdul Karim Hussein (alm) 23 Juli 2003

Ibu Rahana Ibrahim (almh) 25 April 1995

Isteri Dra. Imnati Ilyas, BA., S.Pd., M.Pd., Kons.  Gr SMK 9 /Penyelesain S.3
/DOKTOR Univ. Negeri Padang.
Mertua : Ilyas Amin Dt. Rajo Marajo (alm. 1992) dan Kasimah Kamil (almh. 2005)

Anak : Iqbal Shoffan Shofwan, S.IP., M.Si. (lhr. 18.10.1978)

Shofwim Shofwan, S.Psi., MBA. (lhr. 29.2.1980)

Putri Bulqish Shofwan, S.Sos. (lhr. 11.12.1983)

Adam Putra Shofwan, Mhs Prodi Perfileman dan TV, IKJ  (lhr. 24.7.2016)

Saudara Kandung: Dr. Maizar Karim Elha, M. Hum.,  (Lhr. 18.05.1962). Yarhani Karim, (lhr. 1964)

Suharti Karim, S.Pd.,  (lhr. 1966). Yennita Karim, (lhr. 1969). Shoufis Karim, (lhr 1976)



B. Riwayat Pendidikan:

1. S.3 / DOKTOR, Graduate School/SPS UIN Syahid Jakarta tamat 2008

2. S.2/MA., PPs IAN Syahid Jakarta tamat 1991

3. Sarjana Lenggkap/Drs., Fakultas Tarbiyah IAIN IB Padang tamat 1982

4. Sarjana Muda/BA., Fakultas Tarbiyah IAIN IB Padang tamat 1976

5. Sekolah Persiapan IAIN Padangpanjang tamat 1971

6. SMP Negeri V Jambi tamat 1968

7. SR Negeri Rantau Ikil tamat 1965

8. Madrasah Al-Hidayat al-Islamiyah Sirih Sekapur tamat 1965


C. Partisipasi Seminar dan Konferensi


1. Nara Sumber (Pembicara) Seminar Nasional Regional Meeting Nasyiatul Aisyiah Sumatera, Profesionalisme Guru Ditinjau dari Kompetensi Sosial, Padang, 3 Juli 2008

2. Indonesian Regional Investment Forum (IRIF), Jakarta 14-15 Mei 2008

3. World Peace Forum, Jakarta, 24-26 Juni 2008

4. Peserta dan Pembicara International Seminar on Interfaith Vision and Mission. Interfaith Association of Huntsville. 16-17 Mei 2005. Alabama, USA

5. Peserta Workshop dan Pelatihan Ombudsman Nasional, 8-14 April 2002, Komisi Ombudsman, Padang.

6. 3. Peserta Workshop Agenda Riset Mc. Gill University Canada-LPIU IAIN Syahid Jakarta, 19-25 Maret, 2000, Bogor.

7. Peserta Orientasi pendalaman bidang tugas DPRD Prov. Sumbar, 2-16 Februari 1998, Padang.

8. Peserta Konferensi VI World Constitution and Parliament Association, September, 1996, Barcelona, Spanyol

9. Peserta World Conference on Religion and Peace, Oktober-November 1994, Roma, Vatikan, Riva del Garda, Torento, Itali

10. Peserta Intensive English Course for Academic Purposes, Kerjasama Ditbinperta Depag RI dengan Lembaga Indonesia-Amerika, 19 Januari-19 April 1989, Jakarta.

11. Peserta Latihan Kepemimpinan Nasional KNPI, Juli 1987, Jakarta.

12. Peserta Latihan Peneliti Muda IAIN Imam Bonjol Padang, April 1986, Padang.

13. Peserta Workshop dan Pelatihan Kepemimpinan Pemuda Nasional IV, April 1984, Wisma Pemuda, Cibubur, Jakarta.

14. Sebagai Country Co-ordinator Programme Orientation Camp of International Community Development, August 1984, Palm Lake, Ontario, Canada.

15. Sebagai Group Leader Programme Orientation Camp of International Community Development, July 1982, Diefenbaker Lake, Saskatchewan, Canada.

16. Peserta Penataran Pemuda P4 Tingkat Nasional, Desember 1981, Pelatihan Pramuka Wiladatika, Cibubur, Jakarta.

17. Peserta Programme Orientation Camp of International Community Development, September, 1980, Brag Creek Camp, Alberta, Canada.

18. Nara Sumber Pelatihan Pendidikan Pluralisme Guru-guru Agama SMU , MAN dan SMK, 26-30 Mei 2002, Padang

19. Peserta Seminar dan lokarkarya Nasional BUMN dan Demokrasi Ekonomi, 25 Maret 2002, Bisnis Indonesia-UGM, Jakarta.

20. Peserta Konferensi Internasional Tantangan Demokrasi di Dunia Islam, 23 Maret 2002, Kerjasama PPIM dan KAKK FUY IAIN IB Padang.

21. Peserta Seminar dan Lokakarya Tasawuf dan Psikologi Islam , FU IAIN IB , Januari 2002, Padang



D. Pengalaman Jabatan Organisasi:

1. Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat (UMSB) 2006-2010.

2. Sekretaris ICMI, Majelis Pimpinan Wilayah Sumbar 2007-2012

3. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat (2000-2005)

4. Wakil Sekretaris ICMI Orwil Sumbar 2000-2005

5. Vice President of International Islamic Confederation of Labour 2005-2010, Jenewa, Marokko, Kairo, Kualalumpur

6. Dewan Komisaris PT Semen Padang 2005 sampai sekarang

7. Timbalan Pengerusi Biro Dakwah Dunia Melayu Dunia Islam Melaka 2003-sekarang

8. Anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar 1995-2000.

9. Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat 1992-1997 dan 1997-1999

10. Sekretaris Yayasan Badan Wakaf INS Kayutanam, 1992-1989.

11. Ketua Umum Alumni Program Pertukaran Pemuda Indonesia Luar Negeri/Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) 1990-1993.

12. Participant, Group Leader, Country Coordinator of Indonesia-Canada World Youth Exchange Programme, Alberta-Maluku 1980-1981; Saskatchewan-Sulawesi Tenggara 1982-1983; Ontario-Nusa Tenggara Timur 1984-1985.

13. Penatar P4 pada BP 7 Tk I Provinsi Sumbar 1981-1997.

14. Badan Pembina Kader Angkatan Muda Muhammadiyah Sumbar 1985-1990.

15. Pembantu Rektor III Universitas Muhammadiyah Sumbar (UMSB) 1985-1987,

16. Ketua Biro Pemenangan Pemilu, Wakil Sekretaris dan Sekretaris DPD Golkar Sumbar, 1988-1999.

17. Komandan Peleton, Komandan Kompi, Komandan Bataliyon dan Kepala Staf Resimen Mahasiswa Pagaruyung (Kasmen Maharuyung) Sumbar 1974-1980.

18. Senat Mahasiswa Fak. Tarbiyah, Dewan Mahasiswa dan BKK IAIN Imam Bonjol Padang 1972-1980.

19. Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Padang 1973-1976.

20. Anggota Pimpinan dan Ketua Departemen Kader IMM Sumbar 1973-1978.

21. Anggota Komisariat HMI IAIN IB Padang 1972.

22. Wakil Ketua Daerah PII Padang Panjang 1969-1971 dan Wakil Ketua PW PII Sumbar 1972-1976.

23. Ketua Ikatan Siswa Sekolah Periapan IAIN IB Padangpanjang 1969-1971.



E. Pengalaman Luar Negeri :

1. Pengajar Kolej Islam Muhammadiyah Singapura , 2000-2005

2. Peserta US Government International Visitor Leadership Program on Grassroot Democracy, San Fransisco, CA; Washington, DC.; Portland, Maine; Huntsville, Birmingham, AL; Santa Fe, NM; Seattle, WA, Mei-Juni 2005.

3. Pemakalah dan nara sumber, “Isu Aktual Islam Minangkabau”, Seminar Keluarga Mahasiswa Minang, Kairo dan Ceramah pada Keluarga Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah, Kairo 20-25 Juli 2004.

4. Dialog Triple Faith Forum London dan berkunjung ke Oxford Centre for Islamic Studies, Oxford, UK, 25 Juli - 3 Agustus 2004.

5. Peserta Seminar Islam dan Demokrasi, Persatuan Ulama Nusantara, Kualalumpur, Agustus 2004.

6. Aktif di Konvensi Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) di Melaka sejak 2003

7. Kunjungan dan Dialog Agama dan Perdamaian, WCRP, New York, Agustus 1998.

8. Peserta Konvensi VI World Constitution and Parliament Association, Barcelona, Spanyol, September 1996.

9. Kunjungan Sosial-Budaya ke Inggris, Perancis, Andorra, Jenewa, Jerman, Begia dan Belanda, Oktober 1996.

10. Kunjungan Kerja DPRD Sumbar ke Singapura, Kualalulumpur, Bangkok, Beijing dan Hongkong, September 1995.

11. Peserta World Conference on Religion and Peace (WCRP), Roma dan Riva del Garda, Itali, Oktober 1994.

12. Kunjungan Sosial-Budaya ke Belanda, Inggris, Perancis, Jenewa, Jerman dan Belgia, Oktober-November 1994.

13. Kunjungan Sosial–Budaya kepemudaan ke Hongkong, Tokyo, Honolulu, San Fransisco, September 1988.

14. Delegasi Pemuda Indonesia/KNPI ke Sidang Umum PBB New York, bidang Youth Affairs, September-Oktober 1988.

15. Observer SU PBB New York, atas nama Koordinator Pemuda Indonesia-Canada, Oktober 1984.

16. Peserta, pimpinan grup dan koordinator negara Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada, tinggal beberapa waktu di Vancouver (BC); Edmonton, Calgary dan Stettler(Alberta); Rosetown dan Saskatoo (Saskatchewan); Regina (Manitoba); Toronto, Ottawa (Ontario) dan Montreal(Quebec), Canada, 1980, 1982, 1984.



F. Karya Tulis Ilmiah

1. Nasionalisme, Pancasila dan Islam sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia: Studi Pemikiran Mohammad Natsir . Disertasi DOKTOR, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2008

2. Wacana Pluralisme antara Pemahaman Publik dan Pemikiran Akademik di Indonesia. 2007. Makalah Seminar Antar Bangsa, Agama dan Pembangunan III: University Kebangsaan Malaysia-IAIN Imam Bonjol Padang-IAIN Sunan Ampel Surabaya-Universitas 17 Agustus Surabaya di Selangor, Daarul Ehsan, Malaysia .

3. Pembangunan Kepariwisataan Sumatera Barat: Pengembangan Potensi Wisata Budaya. 2007. Makalah “Annual Lecture dan Seminar Mengenang Tokoh Diplomasi Bung Hatta: Apresiasi Perjalanan 50 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Malaysia”, kerjasama Universitas Andalas dengan Deplu RI (Dit. Asia Timur & Pasifik dan Dit. Diplomasi Publik) dan KBRI Kuala Lumpur. Padang .

4. Geneologis Intelektual dan Pemikiran Gender H. Agus Salim . 2006. Jurnal Kajian Islam Tajdid, IAIN Imam Bonjol Padang.

5. Perguruan Tinggi dan Transformasi Budaya Masyarakat Pluralistik yang Beradab dan Bermartabat. 2005. Makalah Lokakarya Dosen ISBD Universitas Negeri Padang .

6. Etika Agama dalam Pembangunan Pariwisata. Jurnal Kajian Islam Tajdid IAIN Imam Bonjol Volume 18. Th. 2006.

7. “Melelahkan. Tetapi Membahagiakan” dalam Biografi Ahmad Syafii Maarif. (2005). Jakarta.

8. Jane Idleman Smith, Islam di Amerika: Tumbuh dan Berkembang di Ladang Kehidupan. 25 Agustus 2005. Makalah Bedah Buku Pusat Kajian Sosial Budaya dan Ekonomi (PKSBE) Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang.

9. Dakwah sebagai Media Pengembangan Kepariwisataan. 2003. Makalah Forum Pertemuan Seniman, Budayawan, Pemuka Agama, Adat serta Usaha Pariwisata (PHRI-ASITA) dan MUI, Padang.

10. Perspektif Islam tentang Kes.etaraan dan Keadilan Gender. Makalah disampaikan pada advokasi dan sosialisasi Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) bagi Para Pimpinan Pondok Pesantren se Sumatera Barat, Sabtu, 14 Juni 2003 di Padang, Kerjasama PW Aisyiah dan Pimpinan Pusat Aisyiyah di Diklat Depsos, Padang.

11. Cita-cita Politik dan Pluralisme Mohammad Natsir. 2003. Makalah Diskusi Singgalang, Padang

12. Pandangan Agama terhadap Fungsi dan Peranan Pariwisata. 2003. Makalah Pembekalan Kepariwisataan bagi Wali Nagari dan Lurah oleh Dinas Parsenbud Sumbar, Bukittinggi

13. Analisis terhadap Religiositas dan Ideologi dari Soeharto hingga Gus Dur (1966-2000). 2004. Jurnal Kajian Islam Tajdid IAIN IB Padang.

14. Perspektif Islam tentang Gender. 2003. Makalah fasilitasi, advokasi dan sosialisasi PUG bagi tokoh agama, adat dan masyarakat se Sumatera Barat, Padang

15. Konflik dan Integrasi Kaum Tua dan Kaum Muda di Minangkabau (1903-1933). 2002. Jurnal Kajian Islam Tajdid, IAIN Imam Bonjol Padang.

16. Muhammad Abduh dan Ide Pembaruannya. 2001. Jurnal Kajian Islam Tajdid, IAIN Imam Bonjol Padang

17. Al-Masjid wa Makanatuh fi Bina’i wa Tanmiyat Jili al-Syabab. Skripsi Sarjana Lengkap (Drs) . 1982. Fak. Tarbiyah IAIN IB Padang.

18. “Biografi H. Nashrudin Thaha” . 1981. Dalam 20 Ulama Besar Sumatera Barat. Islamic Centre. Padang.

19. Al-Iman, Asas li Mashlahat al-Ummat. 1976. Skripsi Sarjana Muda (BA). Fak. Tarbiyah IAIN IB Padang.

Filantropi Angku Nan Jabang

https://drive.google.com/file/d/1pyhdQZVeSPK5A0DhNVhAr04DcH9kTfFW/view?usp=sharing Filantropi Angku Nan Jabang Oleh Shofwan Ka...