Shofwan Karim, Obituari Buya Mirdas Ilyas (3): Satu Rumah-Posko Bersama Saya, Abdul Hadi, Syar'i tinggal ngekos di kediaman Bp Jamaan-Ibu Djus di Bukitsurungan. Tinggal di rumah pasangan Direktur-isteri yang guru SP-IAIN ini sangat nyaman. Abdul Hadi dari Rantau Ikil pindahan Thawalib langsung tingkat 3 di SP. Syar'i dari Dusun Panjang, guru Thawalib yg sedang selesaikan kuliah di FU Padang Panjang. Keduanya senior saya. Senang tinggal dengan Direktur, Guru dan senior. Ada yg bimbing belajar dan tempat bertanya. Keadaan itu tak lama. Anak saudara Ibu Djus, dua remaja perempuan bergabung di rumah itu. Satu dari Kampungnya Kotolaweh, Yennita, sekolah di SPG Padang Panjang. Satu lagi Nona Stefin Uring dari Manado, masuk SMP 1. Padahal sebelumnya sudah ada Umi, ibunda Bu Djus. Adiknya, Anwar yg sekolah di STM. Ada putri-putra mereka Fairuz (pr), Elwisyam(lk) dan Mirfad (pr) yang masih kanak-kanak. Meski rumah itu cukup besar, tetap...
Shofwan Karim, Obituari Buya Mirdas Ilyas (1): Bayani, Sunnatullah, Takdir? Buya Mirdas adalah Ketua PDM Padang Panjang Batipuh X Koto 2005-2010. Sejak 2015 adalah penasihat. Alquran banyak memberi ingat tentang kematian. Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dihadapi oleh manusia. Saat kematian datang, jiwa akan terlepas dari raganya. Lahir-maut, jodoh dan rezeki adalah 3 hal yg menjadi takdir. Dalam Islam 3 takdir itu yang menjadi rahasia dan hanya Allah SWT yang mengetahui, termasuk di dalamnya adalah kematian. Ketika waktu kematian telah datang menghampiri, manusia tidak dapat menolak atau menghindarinya. Oleh karena itu, selama hidup di dunia, manusia harus selalu mengingat Allah SWT dan tidak terbuai oleh kenikmatan duniawi saja. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW berpesan, “ Perbanyaklah olehmu dalam mengingat penghancur segala kelezatan dunia, yaitu kematian ,” (HR at-Tirmidzi). Firman Allah SWT dalam beberapa ayat...
Di rumah konco Sya’roni, Rambatan. Reuni angk 72 BA FT IAIN IB Nov 2019 (Dok) Shofwan Karim, Obituari Buya Mirdas Ilyas (2): SP-IAIN dan Qari Buya Mirdas Ilyas (paling kanan) mengajak alumni IAIN 1972 ke Resto (latar belakang foto) miliknya di Panyalaian, November 2019. (Dok-arikPri).k Saya tersentak. Dalam degupan dada mengenang kebersamaan. Pada tahun 1969, kami adalah siswa Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) Padang Panjang. SP-IAIN belakangan ada di Padang, Lubuk Alung, Bukittinggi, Payakumbuh dan Batu Sangkar. Berada di bawah satu inspektorat, Inspekturnya Adalah Buya H. Nashruddin Thaha. Seorang tokoh terkenal masa itu. Salah seorang pendiri Islmic College Padang dan Payakumbuh, alumni Azhar Kairo itu, konon pernah menjadi Menteri Pendidikan masa PRRI. Belakangan dinormalisasikan dan beliau menjadi pegawai kementerian Agama RI dan menjadi dosen IAIN IB Padang. Alumni IAIN angkatan 1972 sempat menikmati kuliah dengan Buya yang tinggi semampai ini. Mata Kuliah y...
Komentar