Al-Amin: Dialektika Profetis dan Reaktualisasi Etika Kehidupan
| Ilustrasi: SK-AI |
Al-Amin: Dialektika Profetis dan Reaktualisasi Etika Kehidup
Oleh Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA
Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005|Rektor UM 2006-2013|Dosen Pascasarjana UM Sumbar | Pengamat & Penulis Esai
Muhammadiyah memandang Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai realitas sejarah dan kebudayaan yang terus berproses. Ia tidak menempatkannya semata sebagai perayaan tanggal dalam kalender Hijriah, apalagi sebagai seremoni keagamaan yang selesai ketika mubaligh telah turun mimbar, jamaah pulang dan pengeras suara dimatikan. Maulid justru dapat menjadi sebuah pertanyaan: sejauh mana kecintaan kepada Nabi menjelma menjadi akhlak sosial?
Pertanyaan itu menemukan relevansinya kembali hari ini. Di tengah masyarakat yang mudah terbelah oleh perbedaan politik, identitas, informasi digital, bahkan oleh kata-kata yang ditulis tergesa-gesa di media sosial, keteladanan Nabi Muhammad terasa bukan sekadar kisah masa silam. Ia adalah etika yang terus menuntut untuk dihidupkan.
Arsip Muhammadiyah yang dimuat dalam Suara Muhammadiyah pada 1971 memberikan perspektif yang menarik. Peringatan Maulid diarahkan bukan sekadar sebagai acara rutin, melainkan sebagai media dakwah, gerakan perdamaian, dan ruang kaderisasi bagi Angkatan Muda Muhammadiyah. Penyelenggaraan bahkan diserahkan kepada kaum muda agar mereka tidak hanya menjadi objek dakwah, tetapi sekaligus subjek yang menggerakkan dakwah.
Gagasan itu sesungguhnya jauh lebih maju daripada sekadar mengatur sebuah acara. Di sana terkandung filsafat pendidikan sosial: agama akan hidup apabila nilai-nilainya diterjemahkan oleh manusia ke dalam kenyataan. Dakwah tidak berhenti pada kata-kata, tetapi bergerak menjadi tindakan. Maulid tidak berakhir pada pujian kepada Nabi, tetapi berlanjut menjadi ikhtiar menghadirkan masyarakat yang damai dan sejahtera.
Pandangan tersebut dipertegas KH Abdur Rozaq Fachruddin atau Pak AR dalam tulisannya, “Memanfaatkan Hari Maulid Nabi Muhammad Saw”, yang dimuat Suara Muhammadiyah Nomor 5 Tahun 1976. Pak AR mengakui bahwa Maulid bukan perintah khusus Rasulullah dan bukan pula ketetapan ibadah resmi dari Allah. Namun, ia melihat adanya ruang kebajikan yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperluas dakwah Islam.
Di sinilah kebijaksanaan keagamaan menemukan bentuknya. Sesuatu yang tidak diwajibkan tidak otomatis harus ditolak; sesuatu yang tidak diperintahkan secara khusus juga tidak serta-merta harus menjadi ritual yang dianggap wajib. Muhammadiyah, melalui pandangan Majelis Tarjih, menempatkan Maulid sebagai perkara ijtihadiyah: tidak ditemukan dalil yang memerintahkannya, tetapi juga tidak ditemukan dalil yang melarangnya. Karena itu, yang terpenting adalah kemaslahatan dan kandungan kegiatannya.
Sikap seperti ini menunjukkan bahwa keberagamaan tidak selalu harus dipertentangkan dalam kategori hitam-putih. Ada wilayah kebudayaan, kemaslahatan, dan kreativitas dakwah yang membutuhkan kejernihan berpikir. Agama memiliki prinsip, tetapi manusia juga hidup dalam ruang sejarah yang terus berubah. Maulid, dengan demikian, dapat dibaca sebagai jembatan antara teks dan konteks.
Yang paling penting dari peringatan Maulid bukanlah berapa banyak orang yang hadir, seberapa megah panggung didirikan, atau berapa panjang acara berlangsung. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah setelah Maulid masyarakat menjadi lebih jujur, lebih peduli, lebih santun, lebih damai, dan lebih bertanggung jawab?
Pak AR membawa kita kepada inti persoalan itu melalui satu kata yang sederhana tetapi fundamental: Al-Amin—orang yang dapat dipercaya. Sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, masyarakat telah mengenalnya sebagai pribadi yang terpercaya. Kepercayaan itu bukan gelar kosong. Ia tumbuh dari perilaku yang konsisten: sebagai anak, pedagang, suami, pemimpin, panglima, pengelola amanah publik, hingga pembawa risalah.
Dalam perspektif sosial, kepercayaan adalah modal peradaban. Sebuah masyarakat tidak akan kokoh apabila warganya kehilangan kejujuran. Negara akan rapuh apabila jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah. Ekonomi akan kehilangan martabat apabila keuntungan dibangun di atas penipuan. Politik akan menjadi gaduh apabila kebenaran dikalahkan oleh kepentingan.
Karena itu, meneladani Nabi bukan pertama-tama soal memperbanyak ungkapan cinta, melainkan memperbesar kesediaan berkorban untuk kebenaran. Pak AR mengingatkan bahwa kejujuran Nabi menuntut pengorbanan perasaan, kehormatan, pikiran, waktu, kekuatan, harta, bahkan jiwa. Kejujuran itu diarahkan kepada keridaan Allah dan keselamatan masyarakat. Di titik inilah Maulid memperoleh makna filosofisnya.
Kita memperingati kelahiran seorang manusia yang mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terutama terletak pada kekuasaan, tetapi pada amanah; bukan pada kemegahan, tetapi pada akhlak; bukan pada banyaknya pengikut, tetapi pada kemampuan menghadirkan rahmat bagi kehidupan.
Lebih dari lima puluh tahun setelah instruksi Muhammadiyah tersebut, pesan itu terasa semakin aktual. Dunia digital menghadirkan kecepatan luar biasa, tetapi tidak selalu menghadirkan kedalaman. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan belum tentu bertambah. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan. Karena itu, dakwah yang membawa semangat perdamaian bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan zaman.
Kaum muda memiliki posisi penting dalam konteks ini. Sebagaimana gagasan Muhammadiyah pada 1971, mereka semestinya bukan sekadar penonton dalam kegiatan keagamaan. Mereka adalah pelaku sejarah. Energi, kreativitas, literasi digital, dan keberanian mereka dapat diarahkan menjadi kekuatan dakwah yang mencerdaskan, mendamaikan, dan membangun solidaritas sosial.
Maka, barangkali Maulid terbaik adalah Maulid yang tidak selesai pada hari Maulid. Ia berlanjut dalam kejujuran seorang pedagang, keadilan seorang pemimpin, ketulusan seorang pendidik, kepedulian seorang warga, dan keberanian seorang anak muda untuk membela kebenaran tanpa kehilangan kasih sayang.
Nabi Muhammad SAW telah wafat lebih dari empat belas abad lalu. Namun, teladannya tidak pernah menjadi masa lalu. Ia hidup sejauh manusia bersedia menghidupkannya.
Maka memperingati Maulid pada akhirnya bukan hanya mengenang kapan Nabi dilahirkan. Yang jauh lebih penting ialah bertanya kepada diri sendiri: nilai apa dari kelahiran itu yang telah kita lahirkan kembali dalam kehidupan kita?
Jika jawabannya adalah kejujuran, perdamaian, kepedulian, keadilan, dan kemaslahatan, maka Maulid benar-benar telah berubah dari seremoni menjadi gerakan.
Dan di situlah cinta kepada Nabi menemukan bentuknya yang paling sunyi sekaligus paling nyata: menjadikan akhlaknya sebagai jalan hidup. Wa Allahu a’lam. (*)
Sumber:
https://www.padangekspres.id/1000-way/amp/118217554145/maulid-nabi-dan-jalan-panjang-menghidupkan-keteladanan . Tidak untuk komersial. Akses: 28 Agustus 2026.
Komentar