Sambut dengan Kebersamaan

 


Komentar Singgalang: 

Sambut dengan Kebersamaan 

Oleh Shofwan Karim 

 

Lupakan perbedaan. Sambut dengan kebersamaan. Insya Allah lebaran Idul Fitri 1447 pada  1 Syawal akan sama harinya. Apakah mereka  Ramadhan diakhiri 19 Maret atau 20  Maret. Insya Allah  Jumat atau Sabtu adalah,1 Syawal bagi meeka yang sesuai dan memilihnya karena sama-sama 1 Syawal dalam pikiran dan hati mereka. Hari itu. Masing-masing akan shalat Id bagi yang merayakan. Tak perlu lagi disebut Muhamadiyah, NU atau Pemerintah 

 

Kalau sudah sama hari 1 Syawal maka ibadah tanden sebelum salat  adalah menunaikan zakat-fitrah tak perlu ragu. Sejak awal Ramadan dan paling lambat sebelum matahari bersinar pagi itu dibayarkan kepada yang berhak 

 

Pada 4 tahun lalu, menurut media  (Haluan, 25/4/2022) Ketua Baznas Sumbar  mengatakan ada potensi zakat inklud fitrah  di Sumbar 3.2 Triliyun Itu artinya separoh  dari APBD Sumbar 6,2 Triliyun, waktu itu 

 

Baznas provinsi  tahun itu baru mengumpulkan sampai ujung Ramadan  27 Milyar. Target pada tutup tahun 2022  akan 30 M. Jangan bandingkan dengan potensi nasional 327 Triliyun (Tempo, 3/4/2022)Target tahun ini 26 Triliyiun Artinya, bak langit dan bumi jarak potensi dan realiasi. Baik nasional, apalagi Sumbar. 

 

Baru saja Baznas membagi kepada  6000 mustahik (orang yang berhak menerima zakat), senilai Rp3 Milyar dan 150 mahasiswa luar negeri (Timur Tengah) senilai Rp650 juta. (Haluan, 25/4). Diperkirakan, 24 M lagi  sudah atau akan dicairkan untuk mustahik yang lain.  

 

Hiruk pikuk Perang Isreal-Amerika melawan Israel, memang memopengaruhi ekonomi global, termasuk kita. Geo politik dan perang internasional itu buncah. Namun diharapkan hendaknya semua itu tidak mempengaruhi niat dan ikhtiar umat Islam untuk menunaikan zakat, wakaf, infak sedekah kepada Lembaga resmi atau secara taradisi langsung kepada mereka yang dianggap tepat sesuai asnaf. 

 

Di samping versi pemerintah Baznas ada lagi Lembaga yang sesuai undang-undang menjadi amil. Setiap Ormas mempunyai itu. Muhammadiyah memiliki Lazismu. Di NU ada Lazisnu. Tarbiyah Islamiyah punya Lazis. Bahkan PII  (Pelajar Islam Indonesia) punya Lazisku.  

 

Diperkirakan koporat besar mempunyai amil  seperti itu. Semen Padang, seingat Penulis sudah puluhan  tahun mengumpulkan dan mengelola zakat karyawannya..  

 

Lebih dari itu, sudah dimaklumi  setiap keluarga ada saja yang menyampaikan langsung kepada mustahiknya. Terutama zakat diri atau fitrah. Yang jumlah nilainya sudah di tentukan pada setiap kota  atau provinsi atas kesepakatan MUI.  

 

Yang lain, melalui Pengurus dan Takmir Masjid . Mereka menerima pengumpulan zakat dan fitrah ini dari jamaah dan lingkungan. Ini semua wujud filantrofi yang legal dan dan syar’i. 

 

Jangan lupa , semangat berkampung, bernagari, berjorong, telah pula menjadi budaya. Orang rantau mengirim zakat dan fitrahnya kepada mustahik yang menurut timbangan mereka pantas menerimanya. 

 

Tentu saja varian penerima zakat di atas tadi sudah berlangsung lama. Artinya potensi zakat, wakaf, infak, hibah yang  327 triliyunan (4 tah lalu) tadi sudah dilaksanakan oleh umat Islam Indonesia.  

 

Hanya tidak ke   Baznas semata-mata.   Bahkan varian lembaga penerima dan pengumpul sebagai amil itu sendiri puluhan ribu di Indonesia. Bayangkan jumlah desa 74.093 (2019). Di setiap desa, nagari, dan jorong boleh jadi lebih dari satu Lembaga amil tadi 

 

 

Semua itu bagaikan panorama ibadah kolosal. Tak pernah kita bayangkan. Bahwa Idul Fitri sekali setahun telah membangun urat tunggang peradaban. Peradaban  sebagai puncak budaya berbagi. Dalam suka dan duka 

 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS 3, Ali Imran: 133-134). 

 

Maka saat berbuka akhir Ramadan ini  mari campakkan semua pertikaian dan rajut sempurna kebersamaan. Allahu Akbar.  

 

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA.. MA adalah Pembelajar di Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM Sumbar , 2015-2022; 2000-2005. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shofwan Karim, Obituari Buya Mirdas Ilyas (3): Satu Rumah-Posko Bersama

Komplek Pendidikan Muhammadiyah Hj Adang Fatimah Djalil

Shofwan Karim, Obituari Buya Mirdas Ilyas (1) Bayani, Sunnatullah, Takdir?